Berada di Kawasan Industri, Apartemen di Gunung Putri Jadi Pilihan Investasi Menguntungkan
Apabila konsumen membeli unit dengan harga di kisaran Rp200 jutaan dan memperoleh pendapatan sewa kotor Rp30 juta per tahun, potensi gross rental yield dapat menyentuh angka belasan persen per tahun. Angka tersebut memberikan gambaran konkret mengenai tingkat efisiensi modal yang ditanamkan investor.
Marketing Manager 2 Gunung Putri Apartment, Satrio Pamungkas, menegaskan bahwa investor masa kini membutuhkan pendekatan berbasis data sebelum mengeksekusi keputusan pembelian.
“Investor sekarang semakin kritis. Mereka sudah familiar dengan istilah ROI, yield, cash flow sampai occupancy rate. Karena itu, kami ingin konsumen melihat bahwa keputusan membeli unit sebaiknya berbasis data dan pasar. Selama ada demand yang nyata, properti punya peluang untuk menjadi aset yang bekerja,” kata Satrio.
Dalam skema pembiayaan tertentu, perolehan pendapatan sewa dari penyewa berpotensi menutup sebagian besar kewajiban cicilan bulanan serta biaya pengelolaan. Kondisi ini membentuk karakter self-liquidating asset, di mana properti mampu membiayai pengembangannya sendiri melalui arus kas masuk secara bertahap.
Kendati demikian, Agus Riyadi mengingatkan calon investor agar tetap memperhitungkan risiko secara objektif, termasuk tingkat okupansi dan biaya perawatan berkala.
“Kami tidak ingin investasi properti dipahami sebagai sesuatu yang otomatis memberikan keuntungan. Tetap ada faktor okupansi, biaya perawatan, service charge hingga kondisi pasar. Tetapi ketika lokasi memiliki basis pengguna yang nyata, peluang untuk mendapatkan cash flow menjadi lebih terukur,” tutur Agus.
Satrio Pamungkas menambahkan bahwa kehadiran kawasan industri memberi jaminan berupa *captive market* yang tidak dimiliki oleh semua proyek properti.
“Dalam investasi sewa, yang dicari sebenarnya sederhana: siapa calon penyewanya dan apakah jumlahnya cukup besar. Kehadiran kawasan industri membuat Gunung Putri Apartment memiliki captive market yang relatif jelas. Ini yang membedakan properti produktif dengan properti yang hanya mengandalkan kenaikan harga,” paparnya.
Editor: M Mahfud