Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Laksma TNI Tjahja Nurrobi Pimpin Delegasi Indonesia di The 19th ADMM-Plus Experts' Working Group
Advertisement . Scroll to see content

Refleksi Perjalanan Kesehatan TNI, dari Dukungan Medan Tempur Menuju Ketahanan Kesehatan Nasional

Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:52 WIB
  • author Tim iNews Depok
Refleksi Perjalanan Kesehatan TNI, dari Dukungan Medan Tempur Menuju Ketahanan Kesehatan Nasional
Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI dan Ketua Kompartemen Manajemen Penunjang dan Tanggap Bencana PERSI Pusat. (Foto: Ist)

Pengembangan Hingga Saat Ini

Perjalanan panjang telah membawa Kesehatan TNI dari pelayanan sederhana di medan perjuangan menuju sistem kesehatan yang memiliki rumah sakit, tenaga spesialis dan subspesialis, fasilitas diagnostik dan terapi modern, satuan kesehatan lapangan, kemampuan evakuasi medis, fasilitas hiperbarik, unsur kesehatan penerbangan, kapal bantu rumah sakit serta berbagai kemampuan khusus lainnya.

Rumah sakit TNI saat ini tidak hanya melayani prajurit dan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat. Potensi kesehatan Kemhan dan TNI – baik sumber daya tenaga medis, rumah sakit, farmasi pertahanan maupun sarana pendukung - dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem kesehatan nasional dan kepentingan rakyat.

Di bidang dukungan operasi, interoperabilitas antarmatra semakin penting. Operasi gabungan tidak lagi memungkinkan sistem kesehatan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara bekerja sendiri-sendiri. Dukungan kesehatan harus dapat bergerak sebagai joint medical support system.

Kemampuan bergerak juga berkembang. Rumah sakit lapangan, ambulans darat, ambulans laut, pesawat angkut, helikopter, kapal perang dan kapal rumah sakit menjadikan dukungan kesehatan TNI mampu mencapai wilayah yang sulit dijangkau sistem kesehatan konvensional.

Pada penanggulangan berbagai bencana, kemampuan ini menjadi sangat relevan. Dalam berbagai operasi kemanusiaan, TNI dapat mengerahkan personel tiga matra, fasilitas kesehatan lapangan, sarana transportasi darat, laut dan udara, serta dukungan pencarian, evakuasi, pelayanan kesehatan dan logistik bersama kementerian/lembaga terkait.

Pengembangan kapal rumah sakit juga merupakan lompatan penting. Kapal bantu rumah sakit TNI telah memperluas kemampuan diagnostik dan pelayanan rumah sakit terapung sekaligus menjadi platform operasi kemanusiaan.

Semua perkembangan tersebut menunjukkan satu perubahan mendasar: Kesehatan TNI tidak lagi statis dan hospital-centered. Ia bergerak menuju sistem kesehatan yang mobile, interoperable, deployable dan expeditionary.

Permasalahan dan Analisa

Namun pencapaian delapan puluh satu tahun tidak boleh membuat kita berhenti melakukan evaluasi. Lingkungan strategis berubah lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Karena itu, sistem kesehatan yang berhasil pada masa lalu belum tentu cukup untuk menghadapi masa depan.

Permasalahan Kesehatan TNI dapat kita analisis secara sederhana melalui pendekatan 5M: Man, Money, Material, Method dan Machine.

Pada aspek Man, tantangannya bukan semata jumlah tenaga kesehatan, tetapi distribusi, kompetensi dan kesiapan operasional. Dokter spesialis yang sangat kompeten di rumah sakit belum tentu memiliki kemampuan yang sama untuk bekerja dalam rumah sakit lapangan, kapal, daerah bencana atau lingkungan operasi dengan sumber daya terbatas.

Ke depan diperlukan semakin banyak tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan klinis sekaligus memahami military medicine, disaster medicine, tactical combat casualty care, aeromedical evacuation, maritime medicine, CBRN medicine dan kesehatan operasi.

Pada aspek Money, modernisasi membutuhkan pembiayaan besar. Namun investasi kesehatan militer tidak boleh hanya dihitung berdasarkan utilisasi rumah sakit dalam kondisi normal. Sebagian kemampuan memang harus tersedia sebagai strategic reserve capacity. Rumah sakit lapangan atau fasilitas dekontaminasi misalnya, mungkin tidak digunakan setiap hari, tetapi ketika krisis terjadi keberadaannya menjadi sangat menentukan.

Pada aspek Material, standardisasi menjadi penting. Obat, blood products, alat kesehatan, ambulans, modul rumah sakit lapangan dan perlengkapan evakuasi perlu dirancang agar dapat digunakan secara interoperabel oleh tiga matra.

Pada aspek Method, tantangan terbesar adalah integrasi. SOP penanganan korban massal, sistem rujukan operasi, evakuasi medis, Incident Command System, komunikasi kesehatan dan manajemen logistik harus memiliki standar bersama. Dalam operasi gabungan, satu korban tidak boleh mengalami hambatan hanya karena berpindah dari fasilitas satu matra ke fasilitas matra lainnya.

Sedangkan pada aspek Machine, teknologi berkembang sangat cepat. Telemedicine, artificial intelligence, robotik, wearable monitoring, drone untuk logistik medis, electronic medical record hingga precision medicine akan mengubah wajah pelayanan kesehatan militer.

Tetapi digitalisasi juga menghadirkan ancaman baru. Data kesehatan personel militer merupakan data strategis. Sistem informasi kesehatan karena itu harus dibangun bersamaan dengan sistem keamanan siber yang kuat.

Dari analisis tersebut terlihat bahwa tantangan terbesar bukan lagi sekadar memiliki fasilitas kesehatan, melainkan menghubungkan seluruh kemampuan tersebut menjadi satu sistem Kesehatan TNI yang terintegrasi.

Editor: M Mahfud

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut