Refleksi Perjalanan Kesehatan TNI, dari Dukungan Medan Tempur Menuju Ketahanan Kesehatan Nasional
DELAPAN puluh satu tahun perjalanan Tentara Nasional Indonesia bukan sekadar catatan panjang tentang perjuangan mempertahankan kedaulatan negara. Di dalam perjalanan tersebut terdapat satu unsur yang sejak awal tidak pernah terpisahkan dari setiap operasi militer, yaitu kesehatan.
Sejak Tentara Keamanan Rakyat dibentuk pada 5 Oktober 1945, pelayanan kesehatan tumbuh bersama kebutuhan perjuangan. Pada masa awal kemerdekaan, tenaga kesehatan militer bekerja dalam keterbatasan yang sangat besar. Dokter, perawat, tenaga medis, obat- obatan, sarana evakuasi, bahkan tempat perawatan sangat terbatas.
Namun satu prinsip telah terbentuk sejak saat itu: setiap prajurit yang bertempur harus memperoleh dukungan kesehatan, dan setiap korban harus mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Seiring perjalanan waktu, wajah peperangan dan ancaman terhadap negara berubah.
Ancaman tidak lagi semata-mata berupa konflik bersenjata konvensional. Pandemi, bencana alam, ancaman kimia-biologi-radiologi, perubahan iklim, serangan siber terhadap infrastruktur kesehatan, penyakit emerging dan re-emerging, serta krisis kemanusiaan lintas negara kini menjadi bagian dari spektrum ancaman yang harus dihadapi.
Karena itu, Kesehatan TNI juga mengalami perubahan paradigma. Dari yang dahulu terutama berorientasi pada mengobati prajurit yang terluka dan sakit, kini berkembang menjadi sistem yang harus mampu menjaga kesiapan kesehatan personel, mendukung operasi gabungan, menangani korban massal, mengoperasikan rumah sakit lapangan dan kapal rumah sakit, melakukan evakuasi medis darat-laut-udara, merespons pandemi serta bencana, dan berkontribusi dalam diplomasi kemanusiaan Indonesia.
Puskes TNI memiliki tugas menyelenggarakan dukungan kesehatan secara integratif pada operasi dan latihan TNI, pembinaan serta pelayanan kesehatan integratif, pengembangan tenaga kesehatan dan perangkat lunak kesehatan, serta bakti dan kerja sama di bidang kesehatan. Tugas tersebut juga mencakup pengembangan kemampuan menghadapi ancaman kimia, biologi, radiasi, serta ketahanan hayati atau biodefense.
Memasuki usia ke-81 TNI, pertanyaannya bukan hanya seberapa jauh Kesehatan TNI telah berkembang, tetapi lebih penting lagi: Kesehatan TNI seperti apa yang dibutuhkan Indonesia untuk menghadapi ancaman masa depan?
Peran Kesehatan TNI yang Diharapkan
Dalam suatu organisasi militer modern, kesehatan bukan sekadar sebagai fungsi pelayanan kesehatan. Namun kesehatan juga memiliki fungsi utama sebagai dukungan kesehatan yang menjadi bagian dari kekuatan tempur atau combat power.
Alutsista yang modern tidak akan memberikan kemampuan optimal apabila personel yang mengoperasikannya tidak berada dalam kondisi sehat, siap dan tangguh. Karena itu, keberhasilan sistem kesehatan militer sesungguhnya tidak hanya diukur dari banyaknya pasien yang berhasil diobati, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan sebanyak mungkin prajurit dalam kondisi fit to fight.
Peran pertama Kesehatan TNI adalah menjamin medical readiness atau kesiapan kesehatan prajurit. Pemeriksaan kesehatan, pencegahan penyakit, vaksinasi, kesehatan jiwa, kebugaran, kesehatan lingkungan, nutrisi hingga rehabilitasi harus menjadi satu rangkaian yang terintegrasi sepanjang siklus kehidupan seorang prajurit.
Peran kedua adalah memberikan dukungan kesehatan dalam kegiatan latihan dan operasi. Pada Operasi Militer Perang (OMP) modern berlaku prinsip bahwa kemampuan medis harus bergerak bersama satuan tempur. Stabilization, resuscitation, damage control surgery, evakuasi medis serta pelayanan definitif harus tersambung dalam satu rantai pertolongan yang cepat.
Peran ketiga adalah mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 yang mengubah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI tetap menempatkan penanggulangan akibat bencana alam, pengungsian dan bantuan kemanusiaan sebagai bagian dari tugas OMSP TNI.
Bagi Indonesia yang berada pada kawasan rawan gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir dan berbagai bencana hidrometeorologi, kemampuan kesehatan TNI merupakan salah satu aset strategis nasional.
Peran berikutnya adalah health security. Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran bahwa wabah penyakit dapat berkembang menjadi ancaman multidimensional. Dalam penanganan pandemi, TNI mengerahkan tenaga kesehatan dan berbagai kemampuan pendukung, termasuk keterlibatan di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet dan berbagai fasilitas penanganan COVID-19 lainnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi krisis kesehatan nasional membutuhkan kemampuan komando, mobilisasi sumber daya, logistik dan koordinasi yang merupakan karakter kuat organisasi militer.
Lebih jauh, Kesehatan TNI juga harus memiliki kemampuan riset Bioteknologi, selain juga menjadi instrumen diplomasi kesehatan dan kemanusiaan Indonesia. Kemampuan riset dibidang vaksin dan obat perlu dikembangkan dengan melengkapi peralatan di Labiovak Kemhan serta membangun Lab BSL. Kehadiran kapal rumah sakit TNI dalam misi kemanusiaan menunjukkan bagaimana aset kesehatan militer dapat menjadi bagian dari diplomasi kemanusiaan negara.
Dengan demikian, peran ideal Kesehatan TNI berada pada sebuah spektrum yang luas: dari menjaga kesehatan seorang prajurit hingga berkontribusi terhadap ketahanan kesehatan bangsa.
Editor: M Mahfud