Ia menjelaskan, berbagai kebijakan dan insentif telah disiapkan untuk mendorong pengembangan industri baterai sehingga Indonesia mampu memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral yang dimiliki.
Pada sesi panel yang dimoderatori Nadira Asrifa Nasution, PYC bersama Climateworks Centre memaparkan hasil studi mengenai posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global dengan meninjau aspek dinamika pasar, kebijakan, serta keberlanjutan industri.
Research Coordinator PYC Massita Ayu Cindy Putriastuti dan Analyst Climateworks Centre Dinda Ayu Maharani mengungkapkan bahwa mayoritas kendaraan listrik yang beredar di Indonesia saat ini masih menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak memerlukan nikel. Kondisi tersebut membuat manfaat hilirisasi nikel terhadap industri baterai domestik belum optimal.
Selain itu, kapasitas produksi baterai nasional juga dinilai masih relatif kecil dibandingkan kapasitas produksi global. Karena itu, studi tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing industri baterai dalam negeri.
Diskusi dalam PYC Talks Vol. 3 turut menghadirkan tanggapan dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kadin Indonesia Institute (KII), dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi BKPM Ahmad Faisal Suralaga, Executive Director KII Mulya Amri, serta Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan berbagai masukan strategis guna memperkuat implementasi kebijakan manufaktur baterai yang sejalan dengan kebutuhan industri.
Masukan dari para pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan kajian sekaligus mendukung pembangunan industri baterai nasional yang terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif bersama peserta yang berasal dari unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, media, hingga masyarakat umum. Melalui PYC Talks, Purnomo Yusgiantoro Center menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum diskusi yang menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam mendukung ketahanan energi nasional dan percepatan transisi energi berkelanjutan.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
