Jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, peradangan kronis ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang bersifat permanen.
“Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.
Keterlambatan diagnosis dan penanganan SLE dapat memberikan dampak dan berpengaruh terhadap pasien. Data menunjukkan sekitar 82% pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan; 43,9% mengalami ketidakhadiran di sekolah atau pekerjaan; 32,5% terpaksa berhenti bekerja sepenuhnya; dan sekitar 50% menghadapi dampak psikologis yang signifikan akibat perjalanan penyakit yang panjang.
dr. Sandra juga menambahkan, meski SLE merupakan penyakit kronis, pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup berkualitas baik.
"Kuncinya adalah kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, serta kepatuhan dalam menjalani terapi optimal. Dengan terapi yang optimal dan berkelanjutan, maka pasien berpeluang mencapai remisi yang lebih dini dan berkelanjutan, serta terlindungi dari risiko kerusakan organ jangka panjang," jelas dr. Sandra.
Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia menyatakan pihaknya berkomitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi.
"Kami berharap dapat mendukung pemahaman penyakit yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, serta penanganan yang lebih tepat, sehingga semakin banyak penyandang SLE di Indonesia dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik," harap Esra Erkomay.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
