Puncak Harlah ke-69 JATMAN, Gus Kikin Ajak Umat Seriusi Pendidikan Hati
Senada dengan hal tersebut, Gus Kikin menegaskan bahwa kemampuan mengelola hati adalah modal dasar dalam mengembangkan organisasi. Menurutnya, persatuan yang menjadi syarat kemajuan hanya dapat terwujud jika hati antaranggota saling terhubung dan terjaga.
Semangat persatuan tersebut, lanjut Gus Kikin, tercermin dari rekam jejak Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU hingga Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dalam menolak kolonialisme—sebuah nilai luhur yang tertuang dalam *Qanun Asasi*.
"Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, bahwa hati yang tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga paham yang berbeda-beda," terang Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya melatih spiritualitas dalam beribadah. Tanpa pembiasaan tasawuf, ibadah seperti shalat akan mudah buyar dan terdistraksi oleh urusan duniawi.
Mengingat peran shalat sebagai benteng dari perbuatan tercela, Ketua Umum PBNU tersebut mengajak badan otonom pengelola tarekat ini untuk semakin gencar mengampanyekan pendidikan berbasis ruhaniah.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar