Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Prof Asrorun Niam Sholeh Diangkat Jadi Rais Syuriah PBNU, Cek Jejak Pengabdiannya di Sini
Advertisement . Scroll to see content

Puncak Harlah ke-69 JATMAN, Gus Kikin Ajak Umat Seriusi Pendidikan Hati

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:03 WIB
  • author Vitrianda Hilba Siregar
Puncak Harlah ke-69 JATMAN, Gus Kikin Ajak Umat Seriusi Pendidikan Hati
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menghadiri Puncak Tasyakuran Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (13/10/2026).Foto: Ist

JAKARTA, iNewsDepok.id — Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menghadiri Puncak Tasyakuran Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (13/10/2026).

Sebagai bentuk rasa syukur atas dedikasi organisasi dalam mengawal laku tasawuf di tubuh Nahdlatul Ulama selama hampir tujuh dekade, Gus Kikin memotong tumpeng didampingi jajaran pengurus pusat dan daerah, seperti KH Ali Masykur Musa, KH Ali M Abdillah, Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani, serta Dr KH Abdul Kholiq Hasan.

Dalam sambutannya, Mudir Ali Idarah Aliyyah KH Ali Masykur Musa mengajak pengurus dan warga NU untuk kembali menekuni jalan tarekat. Menurutnya, tarekat merupakan sarana krusial dalam menjernihkan hati sekaligus menguatkan ruhaniah di tengah derasnya arus tantangan zaman.

"Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat," seru Ali Masykur di hadapan para jamaah.

Ia menilai pembinaan spiritual saat ini sangat mendesak. Pendidikan modern dinilai kerap berfokus pada kemampuan kognitif dan keterampilan teknis semata, sementara dimensi ruhaniah terabaikan. Padahal, kondisi hati berperan sentral dalam menentukan setiap langkah dan keputusan manusia.

"Kalau hati itu jernih, maka seluruh pengambilan keputusan dan tindakan yang diamalkan adalah bicara dengan hati," ujarnya sembari mengingatkan bahwa kekeliruan lahiriah sering kali bersumber dari hati yang tidak berfungsi dengan baik, merujuk pada pesan Surah al-Hajj ayat 46.

Ali Masykur menambahkan bahwa tarekat tidak dapat dipisahkan dari tradisi Nahdlatul Ulama. Amalan ini telah menjadi inspirasi para *muassis* (pendiri) dalam merumuskan gerakan organisasi di bawah bimbingan Syekhona Kholil Bangkalan.

Hati Sehat, Modal Utama Berorganisasi

Senada dengan hal tersebut, Gus Kikin menegaskan bahwa kemampuan mengelola hati adalah modal dasar dalam mengembangkan organisasi. Menurutnya, persatuan yang menjadi syarat kemajuan hanya dapat terwujud jika hati antaranggota saling terhubung dan terjaga.

Semangat persatuan tersebut, lanjut Gus Kikin, tercermin dari rekam jejak Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU hingga Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dalam menolak kolonialisme—sebuah nilai luhur yang tertuang dalam *Qanun Asasi*.

"Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, bahwa hati yang tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga paham yang berbeda-beda," terang Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut.

Ia juga menyoroti pentingnya melatih spiritualitas dalam beribadah. Tanpa pembiasaan tasawuf, ibadah seperti shalat akan mudah buyar dan terdistraksi oleh urusan duniawi.

Mengingat peran shalat sebagai benteng dari perbuatan tercela, Ketua Umum PBNU tersebut mengajak badan otonom pengelola tarekat ini untuk semakin gencar mengampanyekan pendidikan berbasis ruhaniah.

"Kita harus lebih serius melakukan pendidikan hati ini, dan yang bisa menjalankannya dengan sungguh-sungguh adalah badan otonom ini," pungkasnya.

Editor: Vitrianda Hilba Siregar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut