Lantaran situasi kian tak terkendali, Amanda memutuskan berjalan menuju lokasi acara demi meminta pihak penyelenggara mematikan atau mengecilkan volume kembang api. Di sepanjang jalan, ia melihat warga sekitar juga berhamburan keluar rumah dengan raut wajah terganggu.
Mendapat Intimidasi hingga Penganiayaan Fisik
Bukannya ditanggapi baik-baik, kedatangan Amanda justru disambut intimidasi oleh sejumlah orang di lokasi. Ia diinterogasi terkait status domisili hingga agamanya, bahkan dituduh sebagai provokator.
"Saya ditanya macam-macam, ditahan, diludahin mukanya, disembur mukanya, disuruh pulang. Saya ditanya apakah kamu Muslim atau bukan, ditanya apakah warga sini atau bukan, padahal rumah saya cuma 200–250 meter dari lokasi," bebernya.
Eskalasi di lokasi kian memanas hingga berujung tindakan fisik. Amanda mengaku didorong hingga jatuh ke dalam saluran air (got) dan pakaian dalamnya robek akibat ditarik paksa.
Melihat ibunya terancam, anak tertuanya, BM (15), bergegas menyusul untuk memberikan perlindungan. Naas, remaja 15 tahun itu justru ikut menjadi korban penyerangan fisik oleh massa di lokasi.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
