Ternyata Irama Jantung Juga Perlu Dipantau Teratur

Novi
Pemantauan kondisi kesehatan terus berkembang untuk mendeteksi kelainanan. Ternyata Irama jantung juga perlu dipantau teratur. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews Depok.id — Pemantauan kondisi kesehatan terus berkembang untuk mendeteksi kelainanan. Ternyata Irama jantung juga perlu dipantau teratur. 

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa hipertensi tak sekadar tekanan darah tinggi, tetapi juga irama jantung atau atrial fibrillation (AFib).

"Hipertensi jangka panjang memberi beban pada jantung. Pada kondisi AFib, detak jantung yang tidak teratur membuat aliran darah tidak optimal sehingga berisiko membentuk bekuan darah. Jika bekuan ini terbawa ke otak, dapat terjadi stroke," kata dr. Decsa dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (12/9/2026). 

Menurut dr. Desca, hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib meningkatkan risiko stroke hingga hampir lima kali lipat.

Salah satu tantangan utama kesehatan jantung adalah AFib paroksismal—gangguan irama jantung yang muncul dan berhenti sendiri dalam kurun waktu kurang dari 7 hari (biasanya beberapa jam hingga 48 jam). 

Kondisi ini kerap tak bergejala atau hanya menimbulkan sensasi berdebar, pusing, dan sesak napas singkat, sehingga sering terlewatkan saat pemeriksaan medis rutin di klinik.

Pemeriksaan irama jantung melalui Elektrokardiogram (EKG/ECG) menjadi krusial untuk merekam aktivitas listrik jantung, merekam detak yang hilang timbul, serta mengevaluasi efek obat atau alat pacu jantung.

Guna mendukung pemantauan mendalam di luar fasilitas kesehatan, OMRON memperkenalkan rangkaian inovasi perangkat ECG portabel yang memungkinkan perekaman langsung saat gejala muncul yakni OMRON Portable 1-Lead ECG (HCG-8011B) dan OMRON Portable 6-Lead ECG (HCG-8060T).

Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan menekankan bahwa merasa sehat tidak menjamin kondisi tubuh bebas dari risiko.

"Setelah mengalami stroke, saya sadar bahwa merasa aktif saja tidak cukup. Kita harus benar-benar mengenali kondisi tubuh sebelum masalah kesehatan terjadi," ungkap Iwet.

Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, menegaskan komitmennya dalam mendukung kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

"Menjaga kesehatan adalah perjalanan harian. Kami ingin memberikan akses pemantauan mandiri agar masyarakat dapat terus hadir bagi keluarga dan berkontribusi bagi sekitar," tutur Tomoaki.

Meski pemantauan EKG mandiri sangat membantu mendeteksi potensi AFib paroksismal sejak dini, OMRON mengingatkan bahwa hasil perekaman mandiri bukanlah diagnosis final dan tetap memerlukan evaluasi dari tenaga medis profesional.

Editor : M Mahfud

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network