Polri Dinilai Jadi Ujung Tombak Jaga Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Vitrianda Hilba Siregar
Polri dinilai memiliki peran signifikan dalam menjaga iklim demokrasi saat mengamankan aksi demonstrasi pada 27 Agustus lalu. Foto: ist

JAKARTA, iNewsDepok.id  - Polri dinilai memiliki peran signifikan dalam menjaga iklim demokrasi saat mengamankan aksi demonstrasi pada 27 Agustus lalu.

Di satu sisi, aparat keamanan mampu memfasilitasi kelompok masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasinya. Di sisi lain, mereka tetap konsisten menjaga keamanan, ketertiban, serta menegakkan hukum.

Penilaian tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Polri Ujung Tombak Demokrasi: Aksi 27 Agustus Jalan Aman dan Damai yang digelar oleh Koalisi Masyarakat Sipil di Jakarta Selatan pada Rabu, 2 September 2026.

Acara ini menghadirkan Peneliti Senior BRIN Dr. Syaufuan Rozi, Pengamat Kebijakan Publik Dr. Faisal Lohy, serta Pegiat Demokrasi Fauzan Ohorella yang bertindak sebagai moderator.

Syaufuan Rozi menilai adanya perubahan paradigma dalam pola penanganan unjuk rasa oleh kepolisian.

Menurutnya, aparat kini lebih cermat dalam membaca karakter dan dinamika massa. Dalam aksi kemarin, pergerakan massa terbagi menjadi tiga sesi, yaitu pagi, siang menjelang sore, serta malam hari yang cenderung diisi oleh kelompok Anarko.

Pemahaman Polri terhadap pemisahan kelompok aspirasi resmi dan kelompok penunggang menjadi modal penting untuk menjaga penyampaian pendapat tetap berada di koridor demokrasi.

Terkait mitigasi terhadap kelompok perusuh, Syaufuan menyarankan agar aparat tidak selalu mengedepankan konfrontasi langsung.

Salah satu langkah taktis yang bisa diambil adalah menarik pasukan pada momen tertentu untuk memutus potensi bentrokan fisik.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Faisal Lohy juga memberikan apresiasi objektif atas keberhasilan Polri mengawal aksi hingga berjalan aman dan damai. Kendati demikian, ia memberikan catatan kritis terkait perlunya evaluasi pada kemampuan deteksi dini.

Rentannya unjuk rasa diakhiri dengan kericuhan menandakan bahwasanya antisipasi awal terhadap penyusup masih harus diperkuat. Selain itu, derasnya arus informasi di media sosial yang berpotensi memicu eskalasi massa di lapangan menuntut strategi preventif dan preemtif yang jauh lebih solid.

Sementara itu, Fauzan Ohorella menyoroti sinergi antara Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya dalam mengedepankan pendekatan persuasif. Langkah ini dinilai sebagai bukti nyata komitmen negara dalam menjamin kebebasan berpendapat tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat dari tindakan anarkis.

Pendekatan humanis tersebut membuktikan bahwa stabilitas keamanan dan prinsip-prinsip demokrasi dapat berjalan beriringan.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network