Vitalnya Peran External Affairs di Indonesia, Jaga Kelangsungan Usaha dari Ancaman Sosial

Mada Mahfud
Muhamad Asep Zaelani, praktisi External Affairs dengan buku karyanya Lewat Garis Depan: Catatan Taktis Praktisi External Affairs. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews Depok.id - Ancaman sosial seringkali tak diperhitungkan saat sebuah usaha dibangun. Namun ternyata ancaman sosial jika tak dikelola dengan baik bisa menghancurkan kelangsungan sebuah usaha. 

Hal tersebut disampaikan Muhamad Asep Zaelani, praktisi External Affairs yang sudah 2 dekade malang melintang di perusahaan pertambangan dalam keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/9/2026). 

Tak sekadar melontarkan statemen Muhamad Asep Zaelani, menuangkan pengalamannya dengan membuat buku berjudul 'Lewat Garis Depan: Catatan Taktis Praktisi External Affairs'. 

Menurut Muhamad Asep Zaelani di tengah dinamika industri ekstraktif dan pengolahan sumber daya alam, persoalan bisnis kerap kali gagal bukan karena kendala teknis atau keterbatasan modal. 

"Hambatan justru sering hadir dari luar yakni konflik sosial, dinamika regulasi, sengketa lahan, hingga resistensi komunitas," kata Muhamad Asep Zaelani. 

Dalam buku karyanya, Muhamad Asep Zaelani membedah secara mendalam bagaimana fungsi External Affairs seharusnya bekerja sebagai infrastruktur sosial pendukung keberlangsungan usaha.

Dalam bukunya, Zaelani tak sekadar membagikan dokumentasi perjalanan karier. Ia berhasil mengkristalisasi tacit knowledge menjadi kerangka kerja yang sistematis dan dapat diwariskan. 

Zaelani menolak stereotip bahwa EA hanyalah fungsi superficial—sekadar menghadiri pertemuan, bagi-bagi suvenir, atau menjadi pemadam kebakaran saat krisis meletus. 

"EA sebagai fungsi strategis perusahaan yang berorientasi pada pemetaan risiko, membaca lanskap sosial, dan membangun ruang komunikasi jauh sebelum perbedaan kepentingan berubah menjadi benturan," ceplos Zaelani. 

Zaelani menerangkan, agar mudah dipahami, bukunya menggunakan pendekatan bottom-up: berangkat dari masalah riil lapangan menuju kerangka berpikir (External Affairs Framework), bukan teori kaku yang dipaksakan.

"Kita menghubungkan keterkaitan erat antara EA, Community Development, Permitting, dan Land Acquisition," papar Zaelani. 

Untuk pembahasan External Affairs Framework dimulai dari business goal perusahaan, disusul pemetaan dan pemprofilan stakeholder, eksekusi strategi engagement, hingga monitoring berbasis evaluasi berkala.

Salah satu poin paling krusial dalam buku ini adalah penekanan bahwa hubungan eksternal yang efektif mustahil terwujud tanpa keselarasan internal. Praktisi EA bertindak dua arah: membawa dinamika luar ke dalam organisasi, sekaligus menyelaraskan narasi internal sebelum keluar.

Zaelani menambahkan bukunya membimbing pembaca bergeser dari sekadar stakeholder engagement menuju pencapaian tujuan bersama (shared value) demi pembangunan berkelanjutan.

 

Editor : M Mahfud

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network