Rupiah Terpuruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Mada Mahfud
Rupiah melemah dan terpuruk menembus Rp18.0000 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (28/7/2026) sehari setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri. (Foto: iNews Depok / Mada Mahfud)

DEPOK, iNews Depok.id - Rupiah melemah dan terpuruk menembus Rp18.0000 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (28/7/2026) sehari setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri. 

Pantauan iNews Depok, pada pukul 11.00 WIB, rupiah melemah ke posisi Rp18. 087 per dolar AS. Ini merupakan titik terendah dalam 5 hari terakhir. 

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi kembali ditutup melemah pada kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen yang membebani pergerakan rupiah berasal dari kekhawatiran pasar terhadap independensi Bank Indonesia (BI).

“Pasar merespons negatif terhadap mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya,” kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (27/7/2026).

Dia menilai sebagian pelaku pasar menduga pengunduran Perry terjadi akibat adanya dorongan agar kebijakan moneter BI disesuaikan dengan arahan pemerintah.

"Intervensi terhadap independensi Bank Indonesia,” ujarnya.

Selain faktor domestik, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu eskalasi konflik geopolitik yang mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Dia menjelaskan intensitas lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menurun. Di sisi lain, arus pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb juga melambat setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi.

Gangguan pada jalur perdagangan energi global tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

“Pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September, sementara pada pertemuan 28-29 Juli, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah,” pungkas Ibrahim.

Editor : M Mahfud

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network