Penularan terutama terjadi melalui kontak langsung dengan darah, muntah, feses, urine, air liur, keringat, ASI, cairan ketuban, semen, atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh penderita. Dengan kata lain, risiko tertinggi berada pada tenaga kesehatan, keluarga perawat pasien, petugas pemulasaraan jenazah, dan orang yang menangani satwa liar atau daging satwa liar yang terinfeksi.
Linimasa Wabah Ebola dari 1976 hingga 2026
Kisah Ebola dimulai pada 1976 ketika dua wabah hampir bersamaan terjadi di Zaire (sekarang RDK) dan Sudan. Wabah di Yambuku, Zaire, menjadi tonggak ditemukannya virus Ebola, dinamai dari Sungai Ebola di dekat lokasi kejadian. Saat itu 318 kasus dilaporkan dengan 280 kematian, menunjukkan betapa mematikannya penyakit baru ini.
Pada tahun yang sama, Sudan melaporkan 284 kasus dan 151 kematian. Setelah itu Ebola tidak menghilang. Wabah besar kembali terjadi di Kikwit, RDK, pada 1995 dengan 315 kasus dan 250 kematian. Pada 2000, Uganda mengalami wabah Sudan virus dengan 425 kasus dan 224 kematian.
Wabah-wabah ini memperlihatkan bahwa fasilitas kesehatan dapat menjadi pusat amplifikasi penularan apabila deteksi dini, isolasi, alat pelindung diri, dan pengendalian infeksi tidak berjalan baik. Puncak sejarah Ebola terjadi pada 2014-2016 di Afrika Barat.
Wabah ini bermula di Guinea, lalu meluas ke Liberia dan Sierra Leone. Dengan lebih dari 28.600 kasus dan lebih dari 11.300 kematian, wabah ini menjadi epidemi Ebola terbesar yang pernah tercatat. Peristiwa tersebut mengubah cara dunia memandang Ebola: bukan lagi hanya ancaman desa terpencil, tetapi juga ancaman yang dapat masuk ke kota besar, melintasi perbatasan, dan mengganggu sistem kesehatan serta ekonomi nasional.
Wabah Kongo 2026: Galur Bundibugyo dan Data yang Terus Bergerak
Pada Mei 2026, perhatian dunia kembali tertuju ke Republik Demokratik Kongo. Wabah yang dilaporkan di Provinsi Ituri dikaitkan dengan Bundibugyo virus, salah satu penyebab penyakit Ebola pada manusia. Data awal yang dirilis lembaga kesehatan menunjukkan kasus terkonfirmasi laboratorium, ratusan kasus suspek, dan puluhan kematian. Per 17 Mei 2026, CDC melaporkan 10 kasus terkonfirmasi dan 336 kasus suspek termasuk 88 kematian di RDK, serta 2 kasus terkonfirmasi dan 1 kematian di Uganda pada orang yang bepergian dari RDK.
Laporan media internasional pada 18 Mei 2026 menyebut angka suspek dan kematian dapat meningkat seiring pelacakan dan pemeriksaan yang berlanjut. Hal yang membuat wabah 2026 perlu diawasi ketat adalah galurnya.
Bundibugyo berbeda dari Zaire ebolavirus. Untuk Zaire ebolavirus telah tersedia vaksin pencegahan dan antibodi monoklonal tertentu, sedangkan untuk Bundibugyo belum ada vaksin atau terapi spesifik yang disetujui secara luas. Oleh karena itu, deteksi dini, isolasi pasien, terapi suportif intensif, pengendalian infeksi, pelacakan kontak, dan komunikasi risiko menjadi tulang punggung respons.
Wabah ini juga mengingatkan bahwa angka epidemiologi pada fase awal selalu bersifat sementara. Sebagian pasien mungkin belum diperiksa laboratorium, sebagian kontak belum ditemukan, dan sebagian laporan kematian masih perlu diverifikasi. Dalam komunikasi publik, penggunaan istilah "terkonfirmasi", "probable", dan "suspek" harus dijelaskan agar masyarakat memahami perbedaan antara data laboratorium dan data investigasi lapangan.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
