Mengenal Hantavirus dan Prevalensinya di Beberapa Negara

Tim iNews Depok
Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI. Foto: Ist

OPINI:

Oleh: Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan (Wakapuskes) TNI. 

HANTAVIRUS adalah kelompok virus zoonotik, yaitu virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Reservoir utama hantavirus adalah hewan pengerat, terutama tikus dan rodensia lain. Penularan paling sering terjadi ketika manusia menghirup partikel debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

Oleh karena itu, risiko hantavirus sering berkaitan dengan lingkungan yang kotor, gudang tertutup, permukiman padat, area pertanian, hutan, serta tempat yang memungkinkan populasi tikus berkembang.

Walaupun tidak sepopuler influenza, COVID-19, atau demam berdarah, hantavirus perlu mendapat perhatian. Infeksi hantavirus relatif jarang, tetapi pada kasus tertentu dapat menimbulkan penyakit berat. Dua bentuk klinis yang dikenal adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang terutama menyerang paru dan Hemorrhagic Feverwith Renal Syndrome (HFRS) yang terutama menyerang ginjal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan hanya masalah kesehatan lingkungan, tetapi juga bagiandari kewaspadaan zoonosis dan keamanan kesehatan global.

Gambaran Prevalensi Global

Berdasarkan infografis, seroprevalensi hantavirus pada manusia secaraglobal diperkirakan sekitar 2,93%. Angka ini menunjukkan adanya bukti paparan sebelumnya terhadap hantavirus pada sebagian populasi manusia. Namun, seroprevalensi tidaksama dengan jumlah kasus sakit aktif. Seroprevalensi menggambarkan adanya antibodi atau tanda paparan, sedangkan kasus klinis menunjukkan orang yang benar-benar sakit dan terdiagnosis.

Secara regional, Asia menunjukkan angka seroprevalensi tertinggi, yaitu 6,84%. Angka ini diikuti oleh Eropa sebesar 2,98%, Amerika sebesar 2,43%, dan Afrika sebesar2,21%. Temuan ini mengindikasikan bahwa Asia merupakan kawasan penting dalam pemantauan hantavirus. Banyak negara Asia memiliki iklim lembap, kepadatan penduduk tinggi, aktivitas pertanian luas, serta interaksi manusia-hewan yang cukup intens. Faktor lingkungan seperti sanitasi, pengelolaan sampah, penyimpanan makanan, dan pengendalian tikus sangat menentukan risiko paparan.

Hantavirus di Asia Tenggara

Di kawasan Asia Tenggara, infografis mencatat prevalensi hantavirus pada mamalia kecil sekitar 6,07%. Data ini penting karena rodensia dan mamalia kecil lain berperan sebagai reservoir alami hantavirus. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemantauan tidak cukup hanya dilakukan pada manusia, tetapi juga perlu dilakukan pada hewan dan lingkungan.

Bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, hantavirus perlu ditempatkan sebagai bagian dari kewaspadaan zoonosis. Penguatan surveilans pada manusia, hewan, dan lingkungan perlu dilakukan melalui pendekatan One Health. Pendekatan ini menekankan kerja sama lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, pemerintah daerah, laboratorium, akademisi, dan unsur pertahanan.

Editor : M Mahfud

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network