
Pemutaran film “Harmoni” bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah medium kuat yang membawa pesan mendalam tentang pentingnya tradisi dan pengetahuan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Dengan tema besar kearifan lokal dan pelestarian lingkungan, "Harmoni" menampilkan narasi yang mengangkat praktik-praktik tradisional masyarakat adat dan komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
Inspirasi film ini datang dari kekayaan pengetahuan yang telah diwariskan turun-temurun, seperti sistem subak di Bali yang mengatur irigasi secara berkelanjutan, praktik sasi di Maluku yang menjaga sumber daya laut, atau hutan larangan di Kalimantan yang melindungi ekosistem penting. Melalui visualisasi yang kuat dan cerita yang menyentuh, "Harmoni" diharapkan mampu memperlihatkan bagaimana kearifan lokal bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga solusi nyata dan inovatif dalam menghadapi tantangan lingkungan modern seperti deforestasi, polusi, dan perubahan iklim.
Film ini terinspirasi dari keresahan sang Sutradara sendiri yang melihat perubahan iklim memengaruhi kehidupan petani di kampung halamannya, Banyuwangi dan keprihatinannya terhadap perkembangan yang kurang seimbang di Bali. Merangkai kisah personal namun memiliki relevansi universal. Penggunaan aktor non-profesional dan pendekatan sinema verite yang diusungnya, juga mengindikasikan keinginan untuk menghadirkan narasi yang otentik dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Pemutaran "Harmoni" di Mblok, sebuah kawasan yang dikenal dengan dinamika urban dan kreativitasnya, menjadi pilihan yang menarik. Hal ini seolah ingin menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda di perkotaan, untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kearifan lokal dalam konteks kekinian. Film ini diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung antara tradisi dan modernitas, menginspirasi penonton untuk tidak melupakan akar budaya dan menggali potensi solusi pelestarian lingkungan dari kearifan yang telah teruji oleh waktu.
Sinergi antara GEF SGP Indonesia, National Geographic, dan sineas seperti Yudha melalui film "Harmoni" adalah langkah konkret dalam upaya meningkatkan kesadaran publik dan mendorong aksi nyata demi lingkungan yang lebih lestari. Pemutaran film ini menjadi pengingat yang kuat bahwa masa depan keberlanjutan dapat ditemukan dalam harmoni antara manusia dan alam, yang seringkali tercermin dengan indah dalam kearifan lokal yang dimiliki oleh berbagai komunitas di Indonesia.
Sesi talkshow juga menghadirkan pembicara Anton Sri Probiyantono, Senior Programme Manager UNDP (United Nations Development Programme). Organisasi PBB yang memiliki peran sentral dalam memajukan agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat global. “Sebagai representasi PBB di lapangan, kami memiliki mandat untuk memfasilitasi dialog dan kerjasama lintas negara dalam mengatasi berbagai isu pembangunan, termasuk pelestarian lingkungan. Di Indonesia, UNDP aktif menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah di berbagai tingkatan, mulai dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta kementerian lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi tantangan lingkungan yang beragam, mulai dari degradasi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman bahan kimia berbahaya dan isu kelautan,” terang Anton.
Namun, upaya pelestarian lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Masyarakat memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dan pelaku utama perubahan. Masyarakat dalam konteks ini adalah kita semua: individu, pelajar, organisasi masyarakat sipil (OMS), sektor swasta, dan berbagai elemen bangsa lainnya.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait