Berawal dari Eksperimen POV, PSYKOPAT Ajak Penonton Nikmati Film Horor dengan Cara Beda

Novi
Berawal dari Eksperimen POV, PSYKOPAT Ajak Penonton Nikmati Film Horor dengan Cara Beda Ki-ka: Stefanus Dimas Putra (Produser Film PSYKOPAT), Renaldo Samsara (Produser, Sutradara, dan Penulis Film PSYKOPAT), dan Cornelio Sunny (Pemeran Lewis). Foto: Novi

JAKARTA, iNews Depok.id - Tahun 2017, sebuah ide liar muncul dari benak seorang sineas muda, Renaldo Samsara. Sebuah naskah film horor dengan konsep point of view (POV) atau sudut pandang orang pertama, sebuah hal baru di perfilman Indonesia. Naskah itu disukai teman-temannya, dan dimulailah proses produksi yang penuh suka dan duka.

"Awalnya semua senang-senang saja dengan rig khusus yang dipasang di wajah. Tapi hari keempat, semua mulai pegal," kenang Renaldo di Gala Premiere film PSYKOPAT pada Kamis, 30 Januari 2025 di XXI Epicentrum, HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Rig atau Helm khusus itu memang dibuat sendiri dan sangat berat, mencapai beberapa kilo. Setelah pengambilan gambar, kru harus beristirahat setidaknya 20 menit untuk menghindari cedera saraf.

Ide POV ini muncul dari hobi sang sutradara, Renaldo Samsara yang gemar bermain game. Ia merasa pengalaman bermain game dengan sudut pandang orang pertama, sangat menarik untuk diangkat ke tema horor. Apalagi genre horor sangat populer di Indonesia, bahkan memiliki daya tarik global.

Film ini pun akhirnya menjadi proyek eksperimental. Dengan dukungan dari pemain-pemain ternama, konsep ini dicoba untuk pertama kalinya di Indonesia. Salah satu pemain yang tertarik dengan proyek ini adalah Cornelio Sunny, yang berperan sebagai Lewis.

"Ketika ngobrol dengan sutradara dan membaca naskahnya, karakter saya sangat menarik," ujar Sunny. Ia merasa karakter Lewis sangat gelap dan belum pernah ia perankan sebelumnya. Karakter ini digambarkan sebagai orang yang bermasalah dengan keluarga dan memiliki depresi.

Untuk mendalami perannya, Sunny melakukan riset mendalam, bahkan berkonsultasi dengan psikolog. Kebetulan, ia juga memiliki latar belakang pendidikan psikologi, sehingga ia berusaha mencari tahu lebih dalam tentang penyakit yang diderita karakternya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk film ini.

Selama syuting, Sunny benar-benar mendalami karakternya. Ia bahkan tidak bisa diajak mengobrol oleh kru lain karena terlalu mendalami peran. "Mungkin mereka takut karena saya terlalu seram," kata Sunny sambil tertawa.

Proses produksi film ini memakan waktu yang sangat lama, dari tahun 2017 hingga 2020. Hal ini dikarenakan film ini awalnya adalah proyek eksperimental. Selain itu, film ini juga sempat tidak mendapatkan dukungan dari studio-studio besar. Para kru bahkan harus patungan untuk membiayai produksi film ini.

Setelah melalui proses editing yang panjang, film ini akhirnya selesai pada tahun 2019. Namun, mereka harus menunggu hingga tahun 2020 untuk mendapatkan konfirmasi tayang di bioskop. Sayangnya, pandemi COVID-19 melanda, dan rencana tayang pun gagal.

Selama masa pandemi, film ini sempat ditawarkan ke beberapa platform OTT. Namun, mereka masih berharap film ini bisa tayang di bioskop. Hingga akhirnya, setelah melalui proses re-edit, film ini akhirnya siap tayang dengan versi penuhnya.

Editor : M Mahfud

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update