MOSKOW, iNews Depok.id — Akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS mengangkat strategi teknologi ramah anak yang dikembangkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia di Global Digital Forum (GDF) II 2026 di Moskow.
Forum 100 Negara tersebut berlangsung 8-10 Oktober 2026, mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan ekosistem digital dari lebih 100 negara di dunia.
Devie Rahmawati memaparkan presentasi bertajuk Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity? Ia mengangkat pengalaman Indonesia dalam membangun transformasi digital yang berpusat pada manusia.
Devie menyoroti Indonesia lewat Komdigi yang menghadirkan perspektif kemajuan teknologi harus berjalan bersama perlindungan manusia di tengah perlombaan negara-negara mengembangkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang semakin canggih.
Strategi Komdigi tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Menurut Devie, kebijakan Menteri Komdigi tersebut penting, karena mencerminkan perubahan paradigma dalam hubungan antara teknologi dan masyarakat.
Devie menyebut selama bertahun-tahun, orang tua dan anak lebih sering diminta menyesuaikan perilaku mereka dengan berbagai risiko teknologi.
“Dulu kita sibuk mengajarkan anak bagaimana bertahan di tengah teknologi. PP TUNAS mengajukan pertanyaan yang jauh lebih maju yaitu bagaimana teknologi harus dirancang agar layak memasuki kehidupan anak?” ujar Devie,
Dalam perspektif akademik, ujar Devie, pendekatan Komdigi berkaitan dengan prinsip safety by design, yakni mengintegrasikan pertimbangan keselamatan dan mitigasi risiko sejak tahap perancangan serta pengoperasian layanan digital. Devie menilai langkah ini penting karena anak-anak tidak semestinya menanggung sendiri seluruh risiko dari sistem teknologi yang dirancang dan dikendalikan oleh pihak lain.
“Melindungi anak bukan berarti menolak kemajuan. Justru perlindungan yang baik memungkinkan anak menikmati manfaat teknologi dengan risiko yang lebih terkendali. Kemajuan digital yang tidak melindungi generasi muda adalah kemajuan yang kehilangan arah,” jelas co-researcher Developing a national strategy for enabling, shaping and seeding meaningful community centered connectivity in rural Indonesia.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
