Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pertumbuhan Pesat AI Bikin Kebutuhan Data Center Melonjak 4 Kali Lipat
Advertisement . Scroll to see content

AI dari Ancaman Jadi Pelindung, Akademisi UI Paparkan Strategi Ketahanan Siber Nasional

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:18 WIB
  • author Iyung Rizki
AI dari Ancaman Jadi Pelindung, Akademisi UI Paparkan Strategi Ketahanan Siber Nasional
Akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS (kanan). Foto: Ist

DEPOK, iNews Depok.id— Perkembangan Kecerdasan Artifisial (AI) yang kian pesat membawa kemudahan sekaligus ancaman baru dalam dunia digital. 

AI kini mampu menirukan suara, merekayasa identitas, hingga menyusun pesan penipuan (phishing) yang sangat meyakinkan. Di tengah ancaman yang kian kompleks ini, fokus keamanan digital tidak bisa lagi hanya dititikberatkan pada keandalan sistem atau jaringan semata, melainkan harus menyasar pada faktor utamanya: kesiapan manusia yang menggunakannya. 

Perspektif mendasar ini disampaikan Akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, dalam keterangan di Jakarta, Kamis (15/10/2026). 

Devi menyebut mengangkat isu tersebut saat menjadi pembicara dalam forum internasional Global Digital Forum II 2026 di Moskow pada 8–10 Oktober 2026. 

Forum yang dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi dan perwakilan lebih dari 100 negara tersebut membahas arah masa depan teknologi dan keselamatan manusia.

Kemunculan AI menciptakan paradoks menarik. Di satu sisi, pelaku kejahatan memanfaatkannya untuk mempercepat dan memperhalus serangan. Namun di sisi lain, teknologi yang sama memiliki potensi besar untuk menjadi tameng perlindungan.

"Jangan hanya menggunakan AI untuk menemukan kelemahan sistem. Gunakan juga AI untuk membantu manusia menjadi semakin sulit diperdaya," tegas Devie.

Ia mendorong agar AI tidak hanya dipandang sebagai teknologi yang harus diamankan, tetapi dimanfaatkan secara aktif untuk mengenali pola ancaman, menyusun edukasi interaktif, dan membantu masyarakat memahami kerentanan digital mereka secara lebih personal.

Cybersecurity vs Cyber Resilience

Devie menjelaskan bahwa pemahaman keamanan digital kini bergeser ke arah yang lebih komprehensif:

Keamanan Siber (Cybersecurity) berfokus pada pencegahan. Tujuannya adalah melindungi sistem, data, dan jaringan agar pintu utama tidak dibobol oleh peretas.

Sedangkan Ketahanan Siber (Cyber Resilience) berfokus pada kemampuan bertahan dan pulih. 

Konsep ini menjawab pertanyaan jika ancaman tetap terjadi, seberapa siap individu atau organisasi dalam mengenali, merespons, membatasi kerusakan, serta bangkit dan belajar dari insiden tersebut?

"Kedua konsep ini saling melengkapi. Keamanan siber mencegah serangan, sementara ketahanan siber memastikan keberlanjutan fungsi saat insiden terjadi," terang Devie

Langkah Strategis BSSN: Dari Akses Digital Menuju Kesiapan Digital

Dalam kesempatan tersebut, Devie memberikan apresiasi atas langkah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mengembangkan Indeks Kesiapan dan Kesadaran Keamanan Siber (IKBKS).

Instrumen IKBKS mengukur tiga dimensi penting faktor manusia, kesadaran (awareness), perilaku (behavior), dan literasi (literacy). 

Devie menilai delama ini, kemajuan digital kerap diukur sebatas jumlah pengguna internet, adopsi aplikasi, atau perluasan jaringan infrastruktur (akses digital). Padahal, memiliki perangkat canggih belum tentu membuat seseorang atau organisasi aman jika pegawai atau anggota keluarganya masih mudah memberikan kode OTP, menggunakan kata sandi yang lemah, atau terkecoh oleh rekayasa suara AI.

Inisiatif IKBKS menandai pergeseran penting menuju kesiapan digital. Dengan pengukuran yang akurat, intervensi dan edukasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat—mulai dari guru, pelaku UMKM, orang tua, hingga aparatur desa.

Lebih lanjut Devie menyatakan transformasi digital yang sukses tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa tangguh manusia yang mengoperasikannya. Dengan menjadikan AI sebagai sarana edukasi dan menempatkan masyarakat sebagai pusat ketahanan siber, Indonesia dapat membangun ekosistem digital yang aman, tepercaya, dan berkelanjutan.

 

Editor: M Mahfud

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut