DEPOK, iNews Depok.id – Kota Depok masih bertumpu pada kawasan Margonda sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah kawasan lain berpotensi menjadi mesin ekonomi baru untuk menambah daya dorong bagi perkembangan ekonomi Kota Depok.
Salah satu kawasan yang berpotensi menjadi daya dorong bagi ekonomi Kota Depok adalah kawasan PT Karabhda Digdaya yang terletak di Kecamatan Tapos Depok.
Dengan menguasai lebih dari 500 hektare, PT Karabha Digdaya menjadi unit bisnis dengan lahan paling luas di Kota Depok.
Sebagai perbandingan, Kecamatan Tapos memiliki luas sekitar 3.343 hektare. Artinya PT Karabha Digdaya menempati 15 persen luas lahan di Kecamatan Tapos.
Dan sebagai catatan tambahan lagi, Kecamatan Tapos adalah kecamatan dengan luas wilayah terbesar di Kota Depok.
PT Karabha Digdaya sejauh ini memiliki 2 lini bisnis utama yakni lapangan golf dan properti.
Lapangan golf bernama Emeralda Golf Club. Sedangkan kawasan properti berbendera Cimanggis Golf Estate dan Umma Arsa Estate.
Cimanggis Golf Estate dikembangkan dengan menggandeng PT Mitra Bangun Prasada yang merupakan grup Artha Graha. Sedangkan Umma Arsa Estate dikembangkan sendiri oleh Karabha Digdaya.
Baik lapangan golf dan properti jelas masuk kelas elit. Emeralda Golf Club berstandar internasional seluas 123 hektar dengan 27 holes.
Emeralda Golf Club didesain pemain golf legendaris Jack Nicklaus dan Arnold Palmer.
Wajar jika Emeralda Golf Club sangat dikenal di kalangan orang kaya mengingat golf menjadi gaya hidup orang-orang berkantong tebal.
Tak heran, Emeralda Golf Club menjadi tambang uang bagi Karabha Digdaya. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) pada tahun 2024, total pendapatan PT Karabha Digdaya mencapai Rp213,3 miliar.
Lapangan golf menyumbang pendatapan sebanyak Rp125,2 miliar atau 59 persen.
Properti juga terus tumbuh dengan mengalirkan uang Rp88,1 miliar atau lebih dari 41 persen pendapatan PT Karabha Digdaya.
Lalu seberapa besar laba? Dari laporan DJKN, persentase laba Karabha Digdaya cukup besar yakni Rp84,22 miliar atau sebesar 40 persen. Tingginya laba pada tahun 2024 karena aset termasuk lapangan golf sudah dimiliki sejak lama.
Sedangkan untuk properti, Karabha memilih model bisnis dengan menggandeng pengembang PT Mitra Bangun Prasada. Sebagai pemilik lahan, Karabha tinggal menerima penjualan tanah plus keuntungan dari mitranya.
Dari sisi dividen, DJKN mengungkapkan sebesar Rp6 miliar mengalir kepada negara pada tahun 2024. Sedangkan besaran pajak mencapai Rp42 miliar.
Potensi Karabha Digdaya bagi Kota Depok
PT Karabha Digdaya 100 persen saham dimiliki oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Kawasan ini dulunya milik sebuah grup konglomerat tetapi kemudian pasca-krisis ekonomi tahun 1998 beralih ke Kementerian Keuangan.
Meski memiliki kawasan luas hingga lebih dari 500 hektare atau 15 persen dari total wilayah Kecamatan Tapos, PT Karabha Digdaya belum berkembang optimal sebagai motor pertumbuhan ekonomi untuk Kota Depok.
Tentu hal ini terkait dengan owner PT Karabha Digdaya yakni Kementerian Keuangan. Meski menjadi gudang uang, Kementerian Keuangan bukanlah pebisnis dengan birokrasi cepat layaknya perusahaan swasta.
Banyak batasan yang membuat PT Karabha Digdaya tak selincah perusahaan murni swasta.
Ini bisa dilihat dari bisnis properti yang perlu menggandeng grup Artha Graha. Secara internal dalam pengembangan properti, PT Karabha Digdaya baru mulai berbisnis dengan membangun Umma Arsa Estate dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Kota Depok, dana CSR Karabha Digdaya sebagian besar dialirkan untuk membantu pengembangan UMKM di sekitar wilayah Tapos. Demikian juga aktivitas keramaian di Karabha, tentu mendorong perputaran ekonomi di wilayah Tapos.
Namun itu belum cukup. Dengan segala potensi yang dimiliki dengan lahan yang sangat luas, PT Karabha Digdaya bisa berkembang lebih jauh untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi bagi Kota Depok terutama wilayah timur.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
