Jejak Panjang Gunung Krakatau, Mulai dari Masa Purba hingga Aktivitas Modern
Kemunculan Anak Krakatau (1927) Dapur magma di bawah kaldera Krakatau tetap aktif. Pada Desember 1927, letusan bawah laut mulai memunculkan daratan baru di tengah kaldera bekas letusan 1883. Pada tahun 1930, daratan ini secara resmi membentuk pulau gunung api baru yang dinamakan Anak Krakatau. Gunung muda ini dikenal sangat aktif dan bertambah tinggi rata-rata 5 meter setiap tahunnya.
Anak Krakatau terus meningkat hingga mencapai momen kritis pada 22 Desember 2018. Erupsi berkepanjangan menyebabkan flank collapse (keruntuhan lereng gunung) seluas puluhan hektar yang longsor ke dalam laut.
Peristiwa ini memicu tsunami di Selat Sunda yang merenggut lebih dari 400 korban jiwa. Keruntuhan ini merombak morfologi gunung secara drastis, memotong tingginya dari sekitar 338 meter menjadi hanya 110 meter di atas permukaan laut.
Memasuki September 2026 anak Gunung Krakatau terus menunjukkan karakternya sebagai gunung api yang aktif dan dinamis. Erupsi Anak Gunung Krakatau berkali-kali, dari fase erupsi skala kecil hingga menengah yang melepaskan kolom abu vulkanik dan lontaran material pijar.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk selalu mematuhi batas radius aman yang ditetapkan guna menghindari bahaya lontaran material dan sebaran abu vulkanik.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar