Jejak Panjang Gunung Krakatau, Mulai dari Masa Purba hingga Aktivitas Modern
JAKARTA, iNewsDepok.id - Sejarah letusan Gunung Krakatau mencatat salah satu peristiwa vulkanik paling signifikan di bumi, membentang dari formasi purbanya hingga dinamika aktivitasnya saat ini.
Jauh sebelum mencatatkan namanya dalam sejarah modern, kawasan Selat Sunda dihuni oleh gunung api raksasa yang dikenal sebagai Krakatau Purba. Letusan dahsyat pada masa prasejarah (sekitar abad ke-5 atau ke-6 Masehi) meruntuhkan tubuh gunung tersebut ke dalam laut dan meninggalkan kaldera luas. Dari sisa-sisa reruntuhan tersebut, muncul tiga pulau gunung api: Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Seiring berjalannya waktu dan bertumpuknya material letusan, ketiga pulau ini menyatu menjadi Pulau Krakatau.
Setelah tertidur selama lebih dari dua abad, Krakatau kembali terbangun pada Mei 1883. Aktivitas ini mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus 1883 dalam sebuah bencana cataclysmic:
Daya Hancur: Letusan utama melepaskan energi yang diperkirakan ribuan kali lipat dari kekuatan bom atom Hiroshima dan meruntuhkan dua pertiga tubuh Krakatau ke laut.
Dentuman Dahsyat: Suara letusannya terdengar hingga sejauh 4.800 kilometer di Pulau Rodriguez (dekat Mauritius) dan Alice Springs, Australia.
Tsunami Besar: Runtuhnya material gunung ke laut memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari 30 meter yang menyapu pesisir Banten dan Lampung, menelan lebih dari 36.000 korban jiwa.
Perubahan Iklim: Debu vulkanik yang melontar hingga lapisan stratosfer menutupi sinar matahari, menurunkan suhu rata-rata global sebesar 1,2°C dan membiaskan warna langit di berbagai belahan dunia selama beberapa tahun.
Kemunculan Anak Krakatau (1927) Dapur magma di bawah kaldera Krakatau tetap aktif. Pada Desember 1927, letusan bawah laut mulai memunculkan daratan baru di tengah kaldera bekas letusan 1883. Pada tahun 1930, daratan ini secara resmi membentuk pulau gunung api baru yang dinamakan Anak Krakatau. Gunung muda ini dikenal sangat aktif dan bertambah tinggi rata-rata 5 meter setiap tahunnya.
Anak Krakatau terus meningkat hingga mencapai momen kritis pada 22 Desember 2018. Erupsi berkepanjangan menyebabkan flank collapse (keruntuhan lereng gunung) seluas puluhan hektar yang longsor ke dalam laut.
Peristiwa ini memicu tsunami di Selat Sunda yang merenggut lebih dari 400 korban jiwa. Keruntuhan ini merombak morfologi gunung secara drastis, memotong tingginya dari sekitar 338 meter menjadi hanya 110 meter di atas permukaan laut.
Memasuki September 2026 anak Gunung Krakatau terus menunjukkan karakternya sebagai gunung api yang aktif dan dinamis. Erupsi Anak Gunung Krakatau berkali-kali, dari fase erupsi skala kecil hingga menengah yang melepaskan kolom abu vulkanik dan lontaran material pijar.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk selalu mematuhi batas radius aman yang ditetapkan guna menghindari bahaya lontaran material dan sebaran abu vulkanik.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar