Strategi Penguatan Ketahanan Kesehatan di Tengah Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Strategi 5: Perlindungan Pembiayaan Kesehatan Keluarga
Dampak pelemahan rupiah akhirnya dapat dirasakan keluarga melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, obat, dan biaya layanan. Ketika daya beli turun, keluarga berisiko menunda berobat, menghentikan obat penyakit kronis, atau memilih pengobatan yang tidak tepat. Strategi ketahanan kesehatan harus melindungi keluarga rentan agar tidak jatuh ke dalam pengeluaran kesehatan katastropik.
Perlindungan ini dapat dilakukan melalui penguatan JKN, kepastian ketersediaan obat di fasilitas kesehatan tingkat pertama, edukasi kepatuhan terapi, layanan penyakit kronis yang dekat dengan rumah, dan program promotif-preventif. Keluarga perlu didorong untuk menjaga imunisasi, gizi, sanitasi, aktivitas fisik, dan kontrol rutin. Ketahanan kesehatan keluarga adalah fondasi ketahanan kesehatan nasional.
Strategi 6: Kolaborasi Global-Regional-Nasional-Daerah
Tidak ada negara yang sepenuhnya mandiri dalam sistem kesehatan modern. Karena itu, strategi nasional harus dilengkapi kerja sama global dan regional. Pada tingkat global, Indonesia perlu memperkuat diplomasi kesehatan untuk akses vaksin, obat, teknologi, dan pembiayaan. Pada tingkat ASEAN, kerja sama dapat diarahkan pada pengadaan bersama, cadangan regional, berbagi data penyakit, dan harmonisasi standar.
Pada tingkat nasional-daerah, koordinasi fiskal dan logistik harus lebih cepat. Pemerintah pusat dapat menyediakan arah kebijakan, cadangan nasional, dan dukungan pembiayaan. Pemerintah daerah memastikan distribusi, pemetaan kebutuhan, dan pengawasan layanan. Fasilitas kesehatan menjalankan kendali mutu, efisiensi klinis, dan pelaporan stok. Masyarakat dan keluarga memperkuat perilaku sehat dan penggunaan layanan secara tepat.
Editor : M Mahfud