get app
inews
Aa Text
Read Next : Golkar Depok Desak Pemkot Lanjutkan Program UHC, Sebut Kesehatan Rakyat Wajib Dipenuhi

Strategi Penguatan Ketahanan Kesehatan di Tengah Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Minggu, 31 Mei 2026 | 13:16 WIB
header img
Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI / Ketua Medical Biodefense Center Research (MBRC) FK Militer Unhan. (Foto: Istimewa)

Analisis Berlapis: Global, Regional, Nasional, Daerah, dan Keluarga

Dampak pelemahan rupiah perlu dibaca secara berlapis karena sistem kesehatan tidak berdiri sendiri. Gangguan di tingkat global dapat menjalar ke nasional, kemudian ke daerah, fasilitas kesehatan, dan keluarga. Tabel berikut merangkum titik tekan dan arah strategi di setiap level.

Strategi 1: Membangun Kemandirian Farmasi dan Alat Kesehatan

Strategi paling mendasar adalah mengurangi kerentanan terhadap kurs melalui kemandirian farmasi dan alat kesehatan. Kemandirian bukan berarti semua produk harus dibuat sendiri, tetapi produk strategis harus memiliki kapasitas produksi nasional, transfer teknologi, cadangan bahan

baku, dan dukungan riset. Kementerian Kesehatan menyatakan industri bahan baku obat nasional telah mampu memproduksi delapan dari sepuluh bahan baku obat yang banyak digunakan di Indonesia, seperti parasetamol, omeprazol, atorvastatin, clopidogrel, amlodipin, candesartan, bisoprolol, dan azitromisin (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Capaian ini perlu diperluas ke bahan baku kritis lain, produk biologi, diagnostik, dan alat kesehatan prioritas.

Kebijakan belanja pemerintah perlu menjadi pengungkit. Produk dalam negeri yang memenuhi standar mutu harus diberi kepastian pasar melalui e-katalog, kontrak jangka menengah, dan prioritas pengadaan. Namun preferensi produk lokal harus tetap disertai pengawasan mutu, farmakovigilans, uji kesetaraan, sertifikasi, dan audit produksi. Tujuannya bukan hanya substitusi impor, tetapi membangun ekosistem industri kesehatan yang aman, bermutu, dan mampu bersaing.

Strategi 2: Diversifikasi Rantai Pasok dan Peta Kerentanan Nasional

Rantai pasok kesehatan tidak boleh bergantung pada satu negara, satu mata uang, atau satu pemasok. Pemerintah dan fasilitas kesehatan perlu membuat peta kerentanan nasional: obat apa yang sangat tergantung impor, alat apa yang suku cadangnya kritis, reagen apa yang hanya memiliki satu distributor, dan layanan apa yang akan berhenti bila satu komponen hilang.  Peta ini harus diperbarui secara berkala dan dihubungkan dengan sistem peringatan dini.

Diversifikasi pemasok perlu diterjemahkan dalam kebijakan kontrak. Untuk produk kritis, pengadaan sebaiknya tidak hanya mengejar harga termurah, tetapi juga mempertimbangkan keamanan pasokan, waktu pengiriman, layanan purnajual, kemampuan maintenance lokal, ketersediaan substitusi, dan ketahanan distributor. Dalam situasi kurs melemah, fasilitas kesehatan yang memiliki beberapa opsi pemasok akan lebih mampu menjaga kontinuitas layanan.

Strategi 3: Cadangan Logistik Kesehatan Berbasis Risiko

Cadangan logistik kesehatan harus dibangun berbasis risiko, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan belanja tahun sebelumnya. Produk yang wajib diprioritaskan meliputi obat esensial, bahan medis habis pakai, reagen diagnostik penyakit prioritas, alat pelindung diri, oksigen medis, alat emergensi, serta komponen maintenance alat kritis. Cadangan ini harus dikelola dengan prinsip first-expired-first-out agar tidak menimbulkan pemborosan.

Di tingkat nasional, cadangan logistik mendukung respons wabah dan bencana. Di tingkat daerah, buffer stock memperkuat puskesmas, rumah sakit daerah, dan jaringan rujukan. Di tingkat fasilitas kesehatan, manajemen stok harus berbasis data konsumsi, tren penyakit, risiko musiman, dan status kurs. Dashboard stok yang sederhana tetapi real time akan membantu pengambil keputusan melihat produk yang menipis sebelum menjadi krisis.

Strategi 4: Efisiensi Tanpa Mengorbankan Mutu

Ketika biaya naik, reaksi paling mudah adalah melakukan pemotongan. Namun pemotongan yang salah dapat menurunkan mutu dan meningkatkan risiko keselamatan pasien. Strategi yang lebih tepat adalah efisiensi berbasis mutu: clinical pathway, formularium yang konsisten, kendali penggunaan antibiotik, audit penggunaan alat, pengurangan duplikasi pemeriksaan, digitalisasi administrasi, dan penguatan layanan primer untuk mencegah rujukan yang tidak perlu.

Rumah sakit perlu memperkuat health technology assessment pada level praktis. Pembelian alat baru harus mempertimbangkan total cost of ownership: harga beli, reagen, consumables, pelatihan, listrik, kalibrasi, suku cadang, downtime, dan kontrak maintenance. Dalam era rupiah melemah, alat yang tampak murah di awal dapat menjadi mahal jika seluruh consumables dan suku cadangnya terikat impor dan dolar.

Editor : M Mahfud

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut