get app
inews
Aa Text
Read Next : Strategi Penguatan Ketahanan Kesehatan di Tengah Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Ebola dari Masa ke Masa: Infeksi Paling Menakutkan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:12 WIB
header img
Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI. (Foto: Ist)

Terapi Ebola: Dari Perawatan Suportif hingga Antibodi Monoklonal

Pada masa awal sejarah Ebola, terapi utama adalah perawatan suportif. Prinsipnya sederhana tetapi menentukan: menjaga cairan tubuh, elektrolit, tekanan darah, oksigenasi, nutrisi, dan mengobati komplikasi. Pasien yang datang lebih dini dan mendapatkan perawatan suportif intensif memiliki peluang hidup lebih baik dibandingkan pasien yang datang terlambat dalam keadaan syok.

Kemajuan besar terjadi setelah penelitian terapi antibodi monoklonal. Untuk Ebola yang disebabkan oleh Zaire ebolavirus, dua terapi yang dikenal adalah Inmazeb dan Ebanga. Keduanya bekerja dengan menargetkan glikoprotein virus sehingga virus lebih sulit masuk ke sel manusia. Namun, efektivitasnya tidak otomatis berlaku untuk semua spesies Orthoebolavirus.

Pada galur Bundibugyo, termasuk wabah Kongo 2026, belum tersedia terapi spesifik atau vaksin yang disetujui luas sehingga terapi suportif dan pengendalian wabah tetap menjadi kunci. Vaksin Ervebo telah disetujui untuk pencegahan penyakit akibat Zaire ebolavirus pada kelompok berisiko tertentu. Strategi vaksinasi cincin pernah menjadi bagian penting dalam mengendalikan wabah Zaire ebolavirus. Namun, keberhasilan pada satu galur tidak boleh menimbulkan rasa aman palsu untuk galur lain. Tantangan masa depan adalah mengembangkan vaksin dan terapi yang lebih luas cakupannya terhadap berbagai spesies Ebola.

Pelajaran untuk Sistem Kesehatan dan Kesiapsiagaan Indonesia

Ebola mungkin jauh secara geografis dari Indonesia, tetapi pelajarannya sangat dekat. Mobilitas global membuat penyakit infeksi berisiko tinggi dapat berpindah lintas negara. Indonesia perlu memelihara kesiapsiagaan deteksi dini di pintu masuk negara, fasilitas kesehatan, laboratorium, dan sistem rujukan.

Pengalaman COVID-19 menunjukkan bahwa kecepatan deteksi, keterbukaan data, komunikasi risiko, dan koordinasi lintas sektor menentukan keberhasilan respons. Bagi TNI dan unsur kesehatan militer, pelajaran Ebola juga relevan dengan konsep biodefense dan kesiapsiagaan ancaman Nubika.

Dukungan kesehatan operasi, rumah sakit lapangan, evakuasi medik, pengamanan perbatasan, laboratorium bergerak, serta kolaborasi sipil-militer dapat menjadi bagian dari sistem respons nasional bila terjadi kedaruratan kesehatan masyarakat.

Dalam konteks global health security, kesiapsiagaan tidak hanya untuk melindungi prajurit, tetapi juga untuk melindungi masyarakat luas. Rumah sakit perlu memiliki prosedur skrining pasien demam dengan riwayat perjalanan, alur isolasi, penggunaan APD, pelatihan donning dan doffing, pengelolaan limbah infeksius, keselamatan petugas, serta komunikasi cepat dengan dinas kesehatan.

Kesiapsiagaan Ebola bukan berarti memicu kepanikan, melainkan membangun disiplin sistem agar penyakit berisiko tinggi dapat dikenali dan ditangani sebelum menyebar.

Wabah Ebola dari masa ke masa menunjukkan bahwa ancaman biologis tidak selalu datang sebagai pandemi global, tetapi dapat menjadi krisis regional yang sangat mematikan dan berdampak internasional.  Dari Zaire 1976, Kikwit 1995, Uganda 2000, Afrika Barat 2014-2016, RDK 2018-2020, hingga Kongo 2026, pola yang sama terus muncul: loncatan zoonotik, keterlambatan deteksi, penularan di fasilitas kesehatan atau komunitas, serta kebutuhan respons cepat yang terkoordinasi.

Kemajuan ilmu pengetahuan telah menghadirkan vaksin dan terapi untuk Zaire ebolavirus, tetapi belum menyelesaikan seluruh persoalan. Galur lain seperti Bundibugyo tetap menjadi tantangan karena belum memiliki vaksin dan terapi spesifik yang disetujui luas.

Karena itu, investasi pada surveilans, laboratorium, pengendalian infeksi, riset vaksin-obat, pelatihan tenaga kesehatan, dan kolaborasi lintas negara harus terus diperkuat. Ebola mengajarkan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh menunggu wabah sampai tiba di depan pintu.

Dunia yang saling terhubung membutuhkan sistem kesehatan yang tangguh, masyarakat yang teredukasi, dan kepemimpinan yang mampu bergerak cepat berbasis sains. Dalam kerangka tersebut, Indonesia dan TNI memiliki ruang kontribusi penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional, regional, dan global. 

 

Editor : M Mahfud

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut