get app
inews
Aa Text
Read Next : Strategi Penguatan Ketahanan Kesehatan di Tengah Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Ebola dari Masa ke Masa: Infeksi Paling Menakutkan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:12 WIB
header img
Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand, Wakil Kepala Pusat Kesehatan TNI. (Foto: Ist)

Patofisiologi Ebola: Mengapa Penyakit Ini Bisa Sangat Mematikan?

Ebola masuk ke tubuh melalui mukosa atau kulit yang terluka. Setelah masuk, virus menginfeksi sel-sel imun awal seperti sel dendritik dan makrofag. Sel-sel ini seharusnya menjadi garda depan pertahanan tubuh, tetapi justru dapat menjadi kendaraan bagi virus untuk menyebar ke kelenjar getah bening, hati, limpa, dan kelenjar adrenal. Pada fase berikutnya, replikasi virus memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi secara berlebihan.  Respons ini sering disebut "badai sitokin".

Akibatnya, terjadi kerusakan endotel pembuluh darah, kebocoran plasma, gangguan pembekuan, dan disseminated intravascular coagulation (DIC). Kombinasi kehilangan cairan akibat muntah-diare, kebocoran pembuluh darah, perdarahan, serta gangguan fungsi hati dan adrenal dapat menimbulkan syok yang sulit dikendalikan. Kematian pada Ebola tidak semata-mata disebabkan oleh perdarahan yang terlihat.

Banyak pasien meninggal karena dehidrasi berat, gangguan elektrolit, syok, gagal ginjal, gangguan fungsi hati, sepsis sekunder, dan gagal multi organ. Karena itu, terapi suportif agresif seperti cairan intravena, koreksi elektrolit, oksigenasi, vasopressor bila perlu, tata laksana nyeri dan
demam, serta pengobatan infeksi sekunder dapat meningkatkan peluang hidup pasien.

Reservoir, Vektor, dan Cara Penularan

Istilah "vektor" dalam Ebola perlu digunakan dengan hati-hati. Ebola tidak ditularkan oleh nyamuk. Reservoir alamiah yang paling sering dicurigai adalah kelelawar buah Afrika dari keluarga Pteropodidae. Virus dapat masuk ke populasi manusia melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, organ, atau jaringan satwa liar yang sakit atau mati, seperti kelelawar buah, primata non-manusia, antelop hutan, duiker, atau satwa liar lain yang menjadi sumber infeksi. Setelah terjadi spillover dari satwa ke manusia, penularan antarmanusia menjadi faktor utama wabah.

Kontak langsung dengan darah, muntah, feses, urine, air liur, ASI, semen, jenazah, pakaian, tempat tidur, jarum, atau alat medis yang terkontaminasi dapat menularkan penyakit. Tenaga kesehatan sangat berisiko bila bekerja tanpa alat pelindung diri yang memadai, terutama pada fase awal ketika pasien belum dicurigai Ebola.

Salah satu aspek penting adalah virus dapat bertahan di area tubuh tertentu pada sebagian penyintas, termasuk semen. Oleh sebab itu, edukasi kepada penyintas, pemeriksaan lanjutan, konseling, dan pencegahan penularan seksual pasca-pemulihan menjadi bagian dari respons kesehatan masyarakat. Dalam masyarakat, edukasi harus disampaikan tanpa stigma, karena stigma justru membuat orang takut melapor dan memperlambat deteksi dini. 

Editor : M Mahfud

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut