get app
inews
Aa Text
Read Next : Bukannya Bentengi Sampah, Potongan Turap TPA Cipayung Depok Malah Bendung Aliran Kali Pesanggrahan

Birokrat Karier Lulusan Biologi UI, Reni Siti Nuraeni Srikandi Baru Atasi Problem Sampah Depok

Senin, 27 April 2026 | 20:41 WIB
header img
Reni Siti Nuraeni, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok. (Foto: Istimewa)

DEPOK, iNews Depok.id Sampah masih menjadi problem rumit di kota-kota di Indonesia termasuk Kota Depok.  Reni Siti Nuraeni menjadi srikandi baru untuk mengatasi problem sampah di Kota Depok.

Dua problem utama menjadi tantangan besar Kota Depok saat ini yakni kemacetan lalu lintas dan masalah sampah yang akut.

iNews Depok belum lama ini berbincang-bincang dengan Reni Siti Nuraeni terkait upaya untuk mengatasi problem sampah di Kota Depok. Dia baru-baru ini ditunjuk sebagai Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok.

Reni menjadi sosok tepat untuk membereskan masalah sampah di Kota Depok. Ia adalah lulusan Biologi FMIPA Universitas Indonesia yang memahami ilmu ekologi lingkungan dan telah puluhan tahun berkarier sebagai birokrat di Pemkot Depok.

Tak heran ia mahir melontarkan gagasan dan langkah konkret untuk mengatasi masalah sampah di Kota Depok dari hulu ke hilir.

”Penyelesaian masalah sampah itu tidak bisa segmented. Harus tuntas dari hulu ke hilir, tak boleh ada yang ditinggalkan. Nah, kita punya konsep Pengelolaan Sampah Termaju,” kata Reni Siti Nuraeni.

Menurut Reni setiap hari muncul 1.300 ton sampah di Kota Depok. Agar persoalan sampah bisa teratasi, sampah akan dikelola sedemikian rupa sehingga sampah di tahap akhir akan berkurang drastis.

Reni menyebut ada tiga tahapan dalam konsep Pengelolaan Sampah Termaju yakni pengolahan di hulu, tengah, dan hilir.

Untuk hulu, sosialisasi pemilahan sampah akan digencarkan ke masyarakat secara langsung dan sekolah-sekolah. Sosialisasi akan melibatkan tokoh masyarakat dan komunitas yang peduli lingkungan hidup.

”Sampah harus dipilah di hulu yakni sampah organik dan anorganik. Sampah organik nanti akan diolah baik menjadi kompos dan sebagian lagi jadi bahan baku untuk maggot,” ujarnya.

Reni mengungkapkan sampah organik ini jumlahnya sekitar 60 persen. Jika tahap pengolahan di hulu berhasil maka jumlah sampah akan berkurang signifikan.

Selanjutnya di bagian tengah, Reni menyatakan akan meningkatkan efektifitas 27 Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang tersebar di Kota Depok.

”Sampah anorganik nanti akan diolah menjadi RDF untuk bahan bakar industri,” terang Reni.

Sedangkan di hilir, sampah timbulan baru yang tak terolah di tahap hulu dan tengah, akan dikirim ke PSEL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik) Kayumanis Bogor. ”Ini akan efektif pada tahun 2028, Pemkot Depok sudah kerja sama dengan PSEL Kayumanis,” ujar Reni.

Sedangkan sampah timbulan lama di TPA Cipayung yang jumlahnya mencapai 2,8 juta juta ton akan diolah dan dipadatkan.

Sementara PSEL Kayumanis belum berjalan, sampah yang masuk TPA Cipayung ditempatkan di lokasi yang jauh dari Kali Pesanggrahan. Langkah ini, kata Reni, untuk mencegah agar sampah tidak luruh ke Kali Pesanggrahan dan ketinggian sampah di TPA Cipayung tidak melebihi ketinggian saat ini yang mencapai 30 meter.

Sedangkan sampah yang sudah terlanjur ke luruh ke tepi sungai, akan diangkat kembali dan dipadatkan.

Reni mengakui keselurahan langkah ini tidak akan mudah dilakukan. Namun jika masalah sampah bisa diatasi, Kota Depok akan mengalami perkembangangan pesat mengingat sampah menjadi penghambat termasuk jadi penyebab banjir.

”Makanya kita serius melakukan langkah-langkah ini agar persoalan sampah tuntas untuk mendukung kemajuan Kota Depok ke depan,” pungkas Reni optimis.

Editor : Mahfud

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut