get app
inews
Aa Text
Read Next : Generasi Muda Makin Melek Keuangan, Investor Pasar Modal Tumbuh Pesat

Ekonomi Global Bergejolak, Ini Dia Strategi Cuan di Bursa Saham

Rabu, 22 April 2026 | 07:52 WIB
header img
Volatilitas pasar modal dinilai masih tinggi pada kuartal II 2026. Situasi ini justru jadi momentumb menguntungkan untuk investor yang memiliki strategi jitu. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews Depok.id- Volatilitas pasar modal dinilai masih tinggi pada kuartal II 2026. Situasi ini justru jadi momentumb menguntungkan untuk investor yang memiliki strategi jitu. 

Pandangan tersebut disampaikan Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas pada Media Day, Selasa ( 21/4/2026).

Media Day mengusung tema Volatility to Opportunity: Market Outlook and Strategy for Q2 2026. 

Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar pada kuartal II 2026. 

Konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, turut mendorong tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global, namun dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujar Rully.

Rully menambahkan bahwa ruang pelonggaran suku bunga cenderung terbatas di tengah tekanan inflasi dan harga minyak, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diproyeksikan berada di kisaran 5,0% pada 2026.

Sementara itu Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Daniel Aditya Widjaja, menyampaikan bahwa kinerja operator telekomunikasi menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari ekspektasi. 

Average Revenue Per User (ARPU) dari dua operator utama, yakni Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XLSmart (EXCL), mencatatkan rekor tertinggi pada kuartal IV 2025.

“Pencapaian ARPU ini mencerminkan pergeseran industri dari kompetisi harga menuju kompetisi berbasis nilai,” ujar Daniel.

Ia menambahkan, potensi pertumbuhan juga didorong oleh bisnis GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang mulai memberikan berkontribusi terhadap pendapatan ISAT, dengan estimasi kontribusi sekitar USD50–70 juta pada 2026. 

Selain itu, rencana spin-off aset fiber Telkom dinilai berpotensi mendorong pembagian dividen spesial dengan estimasi yield sekitar 12–13% pada 2026.

Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor telekomunikasi, dengan EXCL sebagai top pick yang didukung potensi pertumbuhan EBITDA sebesar 17,7% secara tahunan pada tahun fiskal 2026.

Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menilai volatilitas pasar membuka peluang bagi investor untuk masuk secara selektif.

“Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing. Momentum dividen dan kinerja emiten dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada saham komoditas dan big caps,” ujar Nafan.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support di 7.346–7.447 dan resistance di 7.677–7.774 dalam jangka pendek.

Dalam paparannya, Nafan juga menyoroti sejumlah saham big caps yang menarik untuk diakumulasi pada kuartal II 2026, di antaranya ADRO, BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, serta EXCL. Selain itu, saham berbasis komoditas seperti ANTM, BRMS, UNTR, dan MDKA juga dinilai menarik seiring kuatnya harga emas dan dinamika geopolitik global.

Mirae Asset Sekuritas menilai volatilitas pasar bukan semata risiko, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan melalui strategi investasi yang tepat. 

Dengan kombinasi fundamental domestik yang solid serta peluang sektoral yang selektif, investor diharapkan dapat lebih adaptif dalam menangkap momentum pasar pada kuartal II 2026.

Editor : M Mahfud

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut