Saran Tindak Lanjut
Transformasi Kesehatan TNI ke depan perlu diarahkan menuju pembangunan Integrated Military Health System yang menghubungkan Puskes TNI, kesehatan TNI AD, TNI AL dan TNI AU dalam satu arsitektur dukungan kesehatan operasi yang interoperabel.
Rumah sakit TNI perlu dikembangkan bukan hanya berdasarkan klasifikasi pelayanan, tetapi juga berdasarkan peran strategis dan kesiapan operasionalnya. Sebagian rumah sakit dapat menjadi pusat rujukan unggulan, sebagian berfungsi sebagai hub dukungan operasi, sedangkan fasilitas bergerak disiapkan sebagai kekuatan deployable medical capability.
Kesiapsiagaan tidak cukup diukur dari kepemilikan alat. Harus ada indikator yang menggambarkan berapa cepat suatu fasilitas dapat digerakkan, berapa lama mampu beroperasi secara mandiri, berapa kapasitas korban yang dapat ditangani dan bagaimana kemampuan rujukannya.
Sistem medical command and control juga perlu diperkuat. Dalam situasi krisis, data ketersediaan tempat tidur, tenaga kesehatan, darah, obat-obatan, alat kesehatan, ambulans, helikopter, kapal dan rumah sakit lapangan idealnya dapat diketahui secara real-time sehingga pimpinan dapat mengambil keputusan berdasarkan data.
Penguatan biodefense dan medical intelligence menjadi agenda berikutnya. Ancaman biologis pada masa mendatang dapat berasal dari wabah alamiah, kecelakaan laboratorium maupun penggunaan agen biologis secara sengaja. Sistem surveilans, laboratorium, biosafety-biosecurity serta kemampuan deteksi dini karena itu harus menjadi bagian dari pertahanan kesehatan nasional.
Riset kesehatan militer perlu mendapat ruang lebih besar melalui kolaborasi rumah sakit TNI, Universitas Pertahanan, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan industri pertahanan.
Kesehatan militer tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi; pada bidang tertentu Indonesia harus mampu menjadi pengembang dan produsen teknologi kesehatan pertahanan.
Rumah sakit TNI juga perlu bergerak menuju konsep smart, green and resilient military hospital. Fasilitas kesehatan harus mampu tetap beroperasi ketika terjadi banjir, gempa, gelombang panas, gangguan listrik atau terputusnya rantai logistik. Energi cadangan, air, oksigen, komunikasi, pengelolaan limbah dan ketahanan infrastruktur menjadi bagian dari kesiapsiagaan operasi.
Pada saat yang sama, diplomasi kesehatan militer perlu dikembangkan melalui latihan multilateral, kerja sama ASEAN dan ADMM-Plus, kerjasama bilateral dengan negara-negara lain, misi perdamaian PBB, bantuan kemanusiaan internasional, pertukaran tenaga kesehatan dan pengembangan kemampuan Emergency Medical Team. Dengan demikian, Kesehatan TNI dapat menjadi instrumen hard power sekaligus soft power Indonesia.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
