TEHERAN, iNews Depok.id - Iran cibir Amerika Serikat (AS) tak sekuat yang dibayangkan. Iran menegaskan siap perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat (AS), bahkan hingga akhir masa jabatan Presiden Donald Trump.
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, mengatakan militer negaranya siap meladeni perang jangka panjang dengan AS.
Brigjen Naqdi mengatakan Iran memiliki kemampuan perang jangka panjang dalam sebuah wawancara dengan media Amerika; PBS, yang disiarkan Selasa lalu.
"Kami mendapatkan pengalaman nyata dalam bertempur melawan Amerika. Dalam lima bulan ini, kami telah mempelajarinya. Kami juga melihat bahwa militer Amerika ternyata lebih lemah daripada yang kami bayangkan sebelumnya," ceplos Naqdi.
"Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman yang kami peroleh," timpal Naqdi.
Untuk perang jangka panjang, Naqdi menyebut Iran memproduksi pesawat nirawak dan rudal dengan laju yang lebih cepat daripada tingkat penggunaannya, sehingga mereka mampu terus bertempur selama bertahun-tahun.
Jika persediaan tersebut pada akhirnya habis, kata dia, Teheran dapat beralih menargetkan apa yang dia sebut sebagai ribuan kepentingan ekonomi Amerika di seluruh dunia."
Pernyataannya muncul di tengah laporan media-media Amerika mengenai tekanan terhadap stok amunisi AS dan menurunnya moral pasukan Amerika yang dikerahkan di Timur Tengah.
"Tujuan Teheran adalah mencapai deterrence agar musuh tidak pernah berani menyerang kami, sehingga kami bisa hidup dengan aman," ujar Naqdi kepada penyiar AS tersebut saat ditanya apakah para komandan Iran berniat mengulur-ulur konflik hingga Trump tidak lagi menjabat.
"Salah satu caranya adalah dengan memperpanjang perang ini hingga masa jabatan presiden berikutnya dan menyebabkan pengurasan kekuatan lawan, sehingga jika ada pihak lain yang ingin menyerang Iran, mereka akan tahu bahwa ada harga yang harus dibayar," katanya.
Trump melancarkan kampanye pengeboman selama 40 hari terhadap Iran pada akhir Februari. Meskipun kehilangan sejumlah pejabat senior, pemerintah di Teheran tetap memegang kendali negara dan membalas dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk, sembari memberikan tekanan ekonomi terhadap sekutu Washington dan pasar global.
Konflik ini semakin tidak populer di kalangan pemilih AS, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu bulan November. Trump silih berganti antara melontarkan ancaman eskalasi militer lebih lanjut dan klaim bahwa Iran telah melemah hingga ke titik di mana mereka hampir bersedia menerima kesepakatan damai yang menguntungkan Washington.
Pada hari Rabu, Trump mengeklaim bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran—yang diberlakukan sejak April—telah banyak disebut sebagai tembok baja dan bahwa Teheran tidak memiliki uang.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
