JAKARTA, iNews Depok.id - Dunia mulai ketar-ketir dengan munculnya Hantavirus. Virus yang lebih mematikan dari Covid-19 ini mulai menyebar lintas negara.
Dikutip dari website Badan Kesehatan Dunia (WHO), Hantavirus menjangkiti penumpang di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di kawasan Antartika.
Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah penumpang lainnya masih menjalani observasi dan perawatan.
WHO juga telah mengonfirmasi adanya kasus positif di Swiss yang berkaitan dengan kapal tersebut. Otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan kontak lintas negara karena penumpang berasal dari berbagai wilayah dunia.
Dengan demikian, Hantavirus dapat dikatakan sangat berbahaya saat ini. Jika semakin menyebar luas, bukan tidak mungkin virus mematikan ini bisa menjadi ancaman baru masyarakat global.
Sejauh ini Hantavirus terbagi dalam dua kelompok Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau juga disebut Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS).
Jenis kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih sering ditemukan di Asia dan Eropa.
Varian HPS/HCPS memiliki tingkat fatalitas sangat tinggi. WHO mencatat tingkat kematian HPS dapat mencapai 38 hingga 50 persen.
Dengan fatalitas seperti ini, Hantavirus jauh lebih mematikan dari Covid-19. Namun secara umum, ancamannya masih lebih rendah dari Covid karena penyebaran antar manusia tak secepat Covid.
Meski demikian, Hantavirus berpotensi mengalami mutasi. Jika kemampuan penularannya makin efektif, Hantavirus akan lebih berbahaya dari Covid-19.
Catatan khusus, Hantavirus menyerang paru-paru dan ginjal. Gejalanya diawali demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga kelelahan.
Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat menjadi sesak napas berat akibat paru-paru dipenuhi cairan.
Virus ini menyerang ginjal dan dapat memicu perdarahan, tekanan darah rendah, hingga gagal ginjal akut.
Awal Mula Penyebaran Hantavirus
Hantavirus dibawa hewan pengerat seperti tikus dan mencit sebagai inang. Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus.
Saat partikel tersebut mengering lalu terhirup manusia, infeksi dapat terjadi.
Seseorang juga berisiko tertular ketika membersihkan gudang, rumah kosong, loteng, atau area yang dipenuhi tikus tanpa menggunakan perlindungan seperti masker dan sarung tangan.
Belum Dibuat Vaksin Hantavirus
Hingga kini belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan pasien umumnya dilakukan dengan perawatan intensif, bantuan oksigen, hingga ventilator jika terjadi gagal napas.
Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Untuk mencegah infeksi Hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus. Area yang terkontaminasi sebaiknya dibersihkan menggunakan disinfektan dan tidak disapu dalam kondisi kering agar virus tidak beterbangan di udara.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
