Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Piye Kabare Penak Zamanku toh, Farabi Ketua Golkar Depok Kenang Jasa Soeharto
Advertisement . Scroll to see content

Dituduh Berpolitik, Jenderal M Jusuf Gebrak Meja Depan Presiden Soeharto

Selasa, 15 September 2026 | 10:45 WIB
  • author Vitrianda Hilba Siregar
Dituduh Berpolitik, Jenderal M Jusuf Gebrak Meja Depan Presiden Soeharto
Mendiang Jenderal TNI M Jusuf, namanya terukir dalam tinta emas sejarah militer Indonesia karena kesederhanaannya. Foto: Dok

JAKARTA, iNewsDepok.id - Di era Orde Baru, Presiden Soeharto dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat berwibawa dan disegani. Pada masa itu, sangat jarang ada pejabat yang berani menentang, apalagi menunjukkan kemarahan secara terbuka di hadapan sang Presiden.

Namun, sejarah mencatat sebuah peristiwa langka yang melibatkan Jenderal TNI M Jusuf, sosok Menhankam/Panglima ABRI yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh kunci di balik lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Dalam sebuah kesempatan rapat resmi, Jenderal M. Jusuf secara mengejutkan pernah menggebrak meja tepat di hadapan Presiden Soeharto.

Peristiwa tersebut berawal dari penunjukan Jenderal M Jusuf sebagai Panglima ABRI pada Maret 1978. Keputusan Soeharto saat itu sempat mengejutkan banyak pihak, sebab M. Jusuf sudah sekitar 13 tahun meninggalkan lingkungan militer murni dan bertugas di ranah sipil sebagai Menteri Perindustrian.

Begitu kembali dipercaya memegang tongkat komando tertinggi ABRI, M Jusuf dengan sigap menjalankan amanat utama dari Presiden Soeharto, yakni mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Jenderal M Jusuf bertindak sangat aktif. Ia rajin turun langsung ke daerah-daerah, menginspeksi barak-barak prajurit hingga ke pelosok, serta memastikan kesejahteraan para tentara di lapangan terpenuhi. Gaya kepemimpinannya yang sangat humanis dan dekat dengan masyarakat membuat sosoknya dicintai rakyat. Popularitasnya melesat tajam dan kerap mendominasi berbagai pemberitaan di media massa.

Namun, melonjaknya popularitas M. Jusuf justru memicu kecurigaan di lingkaran dalam Istana. Sebagian pejabat elite menganggap aksi nyata M. Jusuf di lapangan sebagai langkah politik terselubung untuk membangun basis dukungan demi menyaingi kepemimpinan Presiden Soeharto.

Isu kecurigaan tersebut akhirnya meletus dalam sebuah rapat terbatas di Bina Graha yang dipimpin langsung oleh Presiden Soeharto. Rapat tersebut dihadiri oleh sejujmlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Dalam Negeri Amirmachmud, Menteri Sekretaris Negara Soedharmono, Moerdiono, serta LB Moerdani. Dalam sesi pembahasan, Amirmachmud secara terbuka mempersoalkan popularitas Jenderal M. Jusuf yang kian menjulang dan menuduhnya memiliki ambisi politik tertentu.

Editor: Vitrianda Hilba Siregar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut