Iran dan AS Kembali Saling Serang, Gejolak Gopolitik Global Belum Mereda
WASHINGTON, iNews Depok.id – Iran dan Amerika Serikat kembali saling serang yang membuat gejolak geopolitik dan ekonomi dunia belum mereda.
Iran, Rabu (10/6/2026) menyerang sejumlah pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah seperti dilaporkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di akun Telegram.
IRGC menyebut serangan menggunakan rudak dan drone. Namun IRGC belum merinci pangkalan AS yang telah dirudal.
Sebelumnya Iran menargetkan pangkalan militet AS di Kuwait dan Bahrain. Bahrain merupakan pangkalan Armada Ke-5 AS, markas helikopter AH-64 Apache yang ditembak jatuh Iran di Selat Hormuz.
Serangan Iran merupakan balasan atas aksi Amerika Serikat yang menyerang berbagai wilayah Iran di sepanjang pesisir Teluk Persia atau Selat Hormuz pada Rabu (10/6/2026) dini hari.
Kantor berita Tasnim melaporkan terdengar ledakan di beberapa kota bagian selatan Iran, seperti Sirik dan Minab, serta di Pulau Qeshm.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan militernya akan membalas serangan AS. Dia menyebut tidak ada serangan AS yang akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan.
“Meski kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami. Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan,” kata Araghchi, dalam posting-an di media sosial X.
Serangan AS sendiri diklain Presiden Donald Trump sebagai aksi balasan setelah helikopter AH-64 Apache yang sedang patroli ditembak jatuh dekat Selat Hormuz. T
Komando Pusat (Centcom) AS menyatakan pasukannya memulai serangan pada Selasa pukul 17.00 EST.
"Misi ini merupakan tanggapan proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan," bunyi pernyataan Centcom.
Sementara itu seorang sumber pejabat AS mengatakan kepada portal berita Axios, militernya menyerang beberapa fasilitas sistem pertahanan dan radar Iran.
Aksi saling serang Iran vs AS mengakibatkan harga minyak WTI Crude yang sempat turun ke posisi US$ 86 per barel kembali naik mendekati US$ 90 per barel pada Rabu pagi WIB.
Editor : M Mahfud