Waspada! Kaca Film 80 Persen Jadi Kedok Driver Taksi Online Cabuli Penumpang
JAKARTA, iNewsDepok.id - Kasus kekerasan seksual yang dilakukan driver taksi online WAH terhadap penumpangnya di Jakarta Pusat mengungkap fakta baru terkait spesifikasi kendaraan pelaku.
Polisi menemukan bahwa kaca film yang sangat gelap digunakan pelaku untuk menghindari pantauan orang di sekitar saat melakukan aksinya. Terkait hal ini, polisi memberikan peringatan kepada warga mengenai visibilitas kendaraan umum.
"Kondisi kaca film dari mobil tersebut sangat gelap, kurang lebih 80 persen, kemudian di sisi kanan kiri, kecuali di depan 60 persen. Ini merupakan satu upaya untuk membatasi adanya visibilitas dari luar ke dalam kendaraan, sehingga aktivitas yang dilakukan oleh pelaku tidak bisa terlihat dari luar," ujar Dir PPA dan PPO Polda Metro Jaya, Kombes Rita Wulandari pada wartawan, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, mobil yang digunakan pelaku memiliki tingkat kegelapan kaca film hingga sekitar 80 persen di bagian samping, sementara bagian depan sekitar 60 persen. Kondisi tersebut membuat visibilitas dari luar ke dalam kendaraan menjadi sangat terbatas, kondisi itu diduga dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya tanpa terdeteksi orang lain di sekitar lokasi.
Terlebih, kata dia, pelaku juga sempat membawa korban ke area sepi yang jauh dari jalur semestinya, yakni di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Maka itu, polisi mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan dengan bersikap waspada saat menggunakan taksi online saat terjadi potensi kejahatan.
"Bagaimana kita bersikap waspada, bagaimana kita mengevaluasi situasi, berespon cepat, dan mengamankan diri, mengamankan bukti-bukti, seperti merekam dan menginformasikan ke pelayanan hotline kami di 110," tuturnya.
"Kami berharap ada upaya dari para pengguna jasa kendaraan umum, supaya harus mampu, cerdas untuk mengamankan atau mengetahui, mendokumentasikan identitas si pengemudi, dan kendaraan yang akan digunakan," jelas Rita.
Dia mengungkap, masyarakat harus mengevaluasi situasi seperti adanya tanda bahaya lantas mengambil keputusan dengan meminta kendaraan berhenti dan segera meninggalkan kendaraan tersebut. Lantas,, menghubungi orang-orang terdekat.
"Kami imbau masyarakat, ketika menemukan kondisi ini, mungkin tidak perlu ragu untuk membantu, setidaknya mengamankan para pihak. Karena pada saat korban melarikan diri, pelaku tidak diamankan warga karena dikira mereka pasangan kekasih sehingga mereka tidak mau mencampuri, jadi hanya menolong korban saja pada saat itu," katanya.
"Kemudian bagaimana kita menyiapkan atau mendokumentasikan bukti-bukti dengan alat bukti rekaman dari handphone-nya bisa digunakan sebagai salah satu bukti, selain upaya penyidik untuk melakukan pembuktian melalui alat bukti elektronik yang lainnya," papar Rita lagi.
Terakhir, tambahnya, dia meminta pada semua driver online ataupun konvensional untuk profesional menjalankan profesinya dengan menjaga etika, batasan, mematuhi rute, dan prosedur. Lalu, membangun rasa aman pada penumpangnya dan bukan membuat penumpang menjadi tidak nyaman.
"Kita juga berharap adanya dukungan dari penyelenggara platform karena di sini sudah bekerjasama dengan baik sehingga kami bisa menemukan cepat mendapatkan informasi dan kiranya ada upaya-upaya perbaikan ke depannya," bebernya.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar