Begini Cara Industri Semen Siasati Pelambatan Proyek Infrastruktur dan Konstruksi
JAKARTA, iNews Depok.id — Industri semen tengah menghadapi tantangan berat seiring pelambatan proyek infrastruktur dan konstruksi.
Tercatat pada tahun 2025, kapasitas produksi Industri semen yang mencapai 56 juta ton, hanya termanfaatkan 54 persen.
Sepanjang 2024 hingga 2025, volume penjualan domestik tercatat menurun sekitar 1,5 persen, dengan total penjualan domestik turun dari sekitar 64,95 juta ton pada 2024 menjadi 63,85 juta ton pada 2025.
Penurunan terjadi di hampir diseluruh wilayah, seiring perlambatan proyek infrastruktur dan konstruksi, termasuk dampak melambatnya proyek Ibu Kota Nusantara, hanya di Indonesia bagian timur terjadi pertumbuhan yang positif.
Berbagai cara ditempuh pelaku Industri semen. PT Cemindo Gemilang Tbk lewat brand Semen Merah Putih mengapungkan agenda keberlanjutan sebagai fondasi bisnis ke depan.
Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi menyatakan agenda keberlanjutan dilakukan melalui efisiensi energi, optimalisasi proses produksi dan logistik, serta pengembangan portofolio green cement yang relevan dengan kebutuhan pasar dan arah kebijakan pembangunan nasional.
"Keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai inisiatif tambahan, melainkan sebagai bagian dari cara industri bekerja hari ini," Surindro seperti dikutip Sabtu (24/1/2026).
Semen Merah Putih membagi praktik sustainability dalam 4 pillar yakni process, product, people dan planet.
"Pendekatan ini penting agar sustainability kami lebih holistik dan terintegrasi dalam mendukung pembangunan nasional tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Surindro.
Pendekatan sustainability sukses mendorong kinerja Semen Merah Putih mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan sekitar 4,2 persen di relevant area di tahun 2025 saat industri semen masih menghadapi perlambatan permintaan.
Efisiensi sebagai fondasi ketahanan operasional ditempuh dengan efisiensi energi.
Saat ini, Semen Merah Putih mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) dengan total kapasitas 2 x 15 MW di Indonesia dan 13 MW di Vietnam. WHRS mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi proses produksi klinker dan berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 100 ribu ton CO₂ per tahun.
Editor : M Mahfud