Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : JGU Angkat Transformasi Jamu Untuk Pengobatan Herbal di Forum Internasional Avicenna
Advertisement . Scroll to see content

JGU Depok Terus Kembangkan Senyawa Bioaktif Manggis α-mangostin Untuk Terapi Kanker Payudara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:30 WIB
  • author Mada Mahfud
JGU Depok Terus Kembangkan Senyawa Bioaktif Manggis α-mangostin Untuk Terapi Kanker Payudara
Kepala Program Studi Farmasi JGU, Dr. apt. Agus Rusdin, M.Farm saat memaparkan riset JGU mengenai senyawa bioaktif manggis untuk terapi kanker payudara di forum ilmiah XIV di Bukhara, Uzbekistan. (Foto: doc. JGU)

DEPOK, iNews Depok.id - Jakarta Global University (JGU) yang berpusat di Kota Depok terus mengembangkan riset senyawa bioaktif manggis yakni α-mangostin untuk terapi kanker payudara. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Program Studi Farmasi JGU, Dr. apt. Agus Rusdin, M.Farm., dalam keterangan di Depok, Kamis (15/10/2026). 

Agus Rusdin menyatakan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang besar, termasuk manggis yang bernama latin Garcinia mangostana sebagai tanaman obat. 

"Salah satu senyawa utamanya, α-mangostin, memiliki berbagai aktivitas farmakologis dan menunjukkan potensi sebagai kandidat antikanker," kata Agus Rusdin. 

Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama karena kelarutan α-mangostin yang rendah dalam air, sehingga pengembangan lebih lanjut memerlukan pendekatan teknologi farmasi. 

Agus Rusdin menyebut perkembangan riset senyawa bioaktif manggis, α-mangostin telah dipaparkan JGU di forum ilmiah internasional XIV International Avicenna Readings Scientific Practical Conference di Bukhara, Uzbekistan pada bulan Agustus 2026.

Forum ilmiah bertema “Abu Ali ibn Sino: Modern Medicine and Traditional Medicine – Innovations and Investment” dikenal menjadi wadah pertukaran riset pengobatan di dunia. 

"Kita paparkan perjalanan pengembangan α-mangostin, senyawa bioaktif dari Garcinia mangostana L., sebagai kandidat terapeutik multi-target untuk kanker payudara," kata Agus Rusdin. 

Untuk mengatasi tantangan kelarutan α-mangostin yang rendah dalam air, JGU melanjutkan riset yang dilakukan 

Dr. apt. Agus Rusdin, M.Farm., bersama Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D., Prof. apt. Nasrul Wathoni, Ph.D., dan Associate Prof. apt. Arif Budiman, M.Si., Ph.D.

Berbagai pendekatan formulasi diteliti termasuk sistem penghantaran nanopartikel dan amorphous solid dispersion. 

Agus Rusdin menyebut hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan farmasetik α-mangostin dapat diatasi melalui inovasi teknologi, sehingga karakteristik penghantaran dan potensi biologisnya dapat ditingkatkan.

"Dengan demikian, penelitian tim tidak berhenti pada menemukan bahwa α-mangostin memiliki aktivitas antikanker, tetapi berupaya mengubah senyawa alam yang memiliki keterbatasan menjadi kandidat yang lebih siap untuk dikembangkan secara farmasetik," jelas Agus Rusdin. 

Kepala Program Studi Farmasi JGU ini menunjukkan bagaimana teknologi farmasi dapat memberikan nilai tambah terhadap sumber daya alam Indonesia.

Dari Pengembangan Formulasi Menuju Terapi Multi-Target

Tahap penelitian berikutnya berkembang dari aspek formulasi menuju pemahaman mengenai mekanisme kerja α-mangostin pada kanker payudara. 

Tim kemudian melanjutkan kolaborasi dengan Prof. Dr. apt. Eddy Yusuf, M.Pharm. Penelitian kemudian mengeksplorasi berbagai mekanisme molekuler yang mungkin mendasari aktivitas antikanker α-mangostin.

Melalui kajian sistematis terhadap 44 penelitian, ditemukan bahwa α-mangostin tidak bekerja hanya melalui satu target, tetapi berpotensi memengaruhi berbagai jalur molekuler yang berkaitan dengan perkembangan kanker payudara, termasuk ERα, Wnt/β-catenin, HER2/PI3K/AKT/MAPK, NF-κB, FAS, CXCR4, dan STAT3. 

"Temuan ini mendukung konsep α-mangostin sebagai kandidat terapi multi-target, yang berpotensi relevan terhadap kompleksitas biologis kanker payudara," terang Agus Rusdin. 

Temuan tersebut kemudian melahirkan pertanyaan penelitian baru, yaitu mekanisme mana yang paling dominan dalam mendasari aktivitas antikanker α-mangostin. Dari pemetaan penelitian yang tersedia, antagonisme ERα merupakan mekanisme yang paling banyak dilaporkan, meskipun berbagai jalur lainnya juga menunjukkan keterlibatan.

Menurut Agus Rusdin, rangkaian penelitian ini menunjukkan bagaimana biodiversitas nasional dapat dikembangkan menjadi inovasi farmasi bernilai tinggi. α-Mangostin tidak lagi hanya dipandang sebagai senyawa alami dari tanaman Indonesia, tetapi mulai dikembangkan melalui teknologi formulasi dan kajian molekuler sebagai kandidat terapeutik multi-target yang berpotensi untuk pengembangan terapi kanker payudara.

Bagi JGU, pemaparan di forum internasional Avicenna menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada komunitas ilmiah internasional sekaligus menunjukkan kapasitas peneliti Indonesia dalam mengembangkan sumber daya alam menjadi inovasi kesehatan. 

Ke depan, penelitian akan diarahkan pada pemahaman target dan mekanisme yang lebih spesifik serta penerjemahan bukti praklinis menuju pengembangan kandidat terapi yang lebih matang.

Perjalanan α-mangostin dari biodiversitas Indonesia menuju kandidat terapi multi-target menunjukkan bahwa kekayaan alam Indonesia dapat menghasilkan inovasi farmasi ketika dipadukan dengan kolaborasi, teknologi, dan penelitian ilmiah yang berkelanjutan.

Editor: M Mahfud

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut