get app
inews
Aa Text
Read Next : Semarak HUT ke-81 RI, Mapala UI Kibarkan Merah Putih Raksasa di Rektorat hingga Puncak Gamalama

Cegah Tawuran Remaja, FIA UI Usung Tagline No Fight Just Vibes di Manggarai

Jum'at, 04 September 2026 | 20:51 WIB
header img
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menggelar kegiatan “Edukasi Pencegahan Tawuran Remaja melalui Pendekatan Literasi Sosial dan Kesadaran Hukum di Manggarai” Foto: Ist

JAKARTA, iNewsDepok.id - Upaya pencegahan tawuran remaja tidak cukup hanya dilakukan melalui imbauan untuk tidak berkelahi.

Remaja juga perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, memahami konsekuensi hukum, serta memiliki orientasi masa depan yang lebih kuat. 

Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menggelar kegiatan “Edukasi Pencegahan Tawuran Remaja melalui Pendekatan Literasi Sosial dan Kesadaran Hukum di Manggarai” dengan mengusung jargon “No Fight Just Vibes.” di wilayah Manggarai, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang terdiri atas orang tua dan remaja. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan dan bekerja sama dengan  dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater dengan subspesialisasi Psikiatri Forensik RSCM, Kelurahan Menteng Tenggulun, Ketua RW 01, sejumlah Ketua RT, serta aparat kepolisian. 

Kolaborasi lintas unsur ini menjadi bagian penting karena pencegahan tawuran membutuhkan keterlibatan tidak hanya dari remaja, tetapi juga keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan aparat penegak hukum.

Ketua Tim Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat FIA UI, Dr. Dewi Lusiana, M.B.A., menyampaikan bahwa pendekatan pencegahan tawuran perlu dilakukan secara lebih menyeluruh. Edukasi hukum memang penting, tetapi pada saat yang sama remaja juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali emosi, menghadapi tekanan teman sebaya, serta mengambil keputusan yang tepat ketika berada dalam situasi konflik.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan ini berfokus pada tiga aspek utama, yakni self-management dalam menghadapi konflik, peningkatan kesadaran terhadap konsekuensi hukum tawuran, serta penguatan motivasi dan orientasi masa depan remaja.

Mengelola Konflik Sebelum Berujung Kekerasan

Dalam kehidupan remaja, konflik dapat bermula dari persoalan yang terlihat sederhana, seperti ejekan, kesalahpahaman, solidaritas kelompok, maupun provokasi dari lingkungan pertemanan. Ketika kemampuan mengelola emosi belum terbentuk dengan baik, situasi tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih berisiko.

Dalam sesi ini, Dr. dr. Natalia Widiasih Raharjanti, MPd.Ked., Sp.KJ., Subsp. For.(K), psikiater forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)–RSCM, memberikan edukasi mengenai self-management dan pengambilan keputusan dalam situasi konflik. 

Melalui perspektif kesehatan jiwa dan psikiatri forensik, remaja diajak memahami bagaimana mengenali emosi, mengelola respons terhadap provokasi dan tekanan kelompok, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil tindakan yang dapat berujung pada kekerasan.

Pesan yang dibangun adalah bahwa kemampuan menahan diri bukan merupakan bentuk kelemahan. Sebaliknya, keberanian juga dapat diwujudkan melalui kemampuan menolak provokasi, tidak mengikuti tekanan kelompok, serta memilih penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Memahami Bahwa Tawuran Memiliki Konsekuensi Nyata

Selain kemampuan mengelola diri, pemahaman mengenai hukum menjadi bagian penting dalam pencegahan tawuran. Remaja perlu mengetahui bahwa keputusan untuk “sekadar ikut”, terbawa solidaritas kelompok, ataupun terlibat dalam tindakan kekerasan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih panjang dibandingkan konflik yang menjadi pemicunya.

Aspek tersebut dibahas bersama AKP Irawan Junaedi, S.E., M.M., Kanit Binmas Polsek Metro Menteng, serta Aiptu Roby, Bhabinkamtibmas Kelurahan Menteng.
Kehadiran aparat kepolisian memberikan ruang bagi peserta untuk memahami secara langsung berbagai risiko yang muncul dari keterlibatan dalam tawuran, sekaligus membuka dialog antara remaja, orang tua, dan lingkungan mengenai langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.

Mengajak Remaja Melihat Masa Depan yang Lebih Besar

Upaya menjauhkan remaja dari tawuran juga perlu diikuti dengan memberikan alasan yang kuat bagi mereka untuk memilih jalan yang berbeda.
Melalui sesi “Masa Depan Saya Lebih Besar dari Tawuran”, Dr. Muhammad Ramaditya, B.B.A., M.Sc. mengajak para remaja untuk melihat kembali cita-cita, pendidikan, karier, dan berbagai kesempatan yang masih terbuka di masa depan.

Pendekatan ini menekankan bahwa keputusan yang diambil pada masa remaja dapat memengaruhi kesempatan di kemudian hari. Karena itu, remaja didorong untuk tidak mempertaruhkan masa depan hanya demi pengakuan sesaat, tekanan kelompok, maupun konflik yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara lain.

Pencegahan Tawuran Perlu Ekosistem yang Kuat

Kegiatan ini tidak hanya menyasar remaja. Kehadiran orang tua, pengurus wilayah, aparatur kelurahan, dan Kepolisian menegaskan bahwa pencegahan tawuran harus dibangun sebagai sebuah ekosistem bersama.

Kerja sama dengan Kelurahan Menteng Tenggulun, Ketua RW 01, sejumlah Ketua RT, serta aparat Kepolisian diharapkan dapat memperkuat peran lingkungan terdekat dalam mengenali persoalan remaja lebih awal, membangun komunikasi yang sehat, dan menciptakan ruang sosial yang lebih aman.Lebih dari 50 peserta yang hadir menunjukkan bahwa isu pencegahan tawuran bukan hanya menjadi perhatian remaja, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Melalui dialog yang melibatkan berbagai pihak, kegiatan ini berupaya membangun kesadaran bahwa pencegahan tidak cukup dilakukan setelah konflik terjadi, tetapi perlu dimulai dari lingkungan sehari-hari.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut