ESMOD Jakarta Kembali Buka Peluang Talenta Lokal Jadi Desainer Top
DEPOK, iNews Depok.id –Sejumlah alumni ESMOD Jakarta sukses berkiprah di kancah global sebagai desainer seperti Sapto Djojokartiko, Ria Miranda, Hian Tjen, hingga Yogie Pratama. Karya-karya pernah dikenakan diva internasional seperti Christina Aguilera.
Tekad tersebut disampaikan Chief Marketing Officer ESMOD Jakarta, Suryo Danuwinoto, di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Suryo menegaskan komitmennya dalam mencetak talenta lokal berdaya saing internasional tanpa menanggalkan akar budaya nusantara.
Suryo mengungkapkan sejak berkiprah pada 1996, ESMOD Jakarta telah melahirkan lebih dari 1.000 lulusan yang mewarnai panggung mode nasional dan internasional.
Untuk melahirkan desainer top, Suryo menyatakan membuka skema pendidikan empat tahun ini melalui program Global Mobility Pathway.
Skemanya mahasiswa menempuh 2 tahun pertama di ESMOD Jakarta, dilanjutkan dengan studi tahun ketiga di salah satu jaringan kampus ESMOD International di luar negeri, dan menuntaskan tahun terakhir kembali di Indonesia.
"Inisiatif internasional ini membuka pintu lebar-lebar bagi para talenta muda Indonesia untuk merasakan langsung ekosistem industri fashion global di kota-kota mode dunia, seperti Paris, Seoul, Tokyo, hingga Dubai, sekaligus memboyong gelar ganda," kata Suryo Danuwinoto.
Melalui program Global Mobility Pathway, lulusan akan mengantongi ijazah Diploma ESMOD International sekaligus gelar Sarjana Terapan (D4) yang terakreditasi dan diakui pemerintah Indonesia setara S1.
"Global Mobility Pathway merupakan langkah lanjutan dari perjalanan ESMOD Jakarta selama 30 tahun dalam mempersiapkan talenta fashion Indonesia. Kami ingin mahasiswa tidak hanya siap memasuki industri global, tetapi juga mampu membawa perspektif, kreativitas, dan identitas Indonesia ke dalam ekosistem fashion internasional," ujar Suryo.
Suryo menyebut program ini dirancang tanpa skema biaya kuliah ganda. Mahasiswa yang menjalani tahun ketiga di luar negeri cukup membayar biaya pendidikan di kampus tujuan, seperti ESMOD Seoul atau Paris.
"Namun, seleksi ketat tetap diberlakukan demi menjaga mutu akademik, mulai dari syarat standar IPK minimal 3,5 hingga lulus tahapan wawancara kuratorial dari kampus tujuan," tegas Suryo.
Deputy Director of Academic Programs ESMOD Jakarta, Guillaume Oger, menilai adaptasi di lingkungan lintas budaya merupakan kunci penting pematangan desainer muda.
"Ketika mahasiswa berpindah lingkungan, mereka dipaksa keluar dari cara berpikir yang familiar. Di situlah pembelajaran terjadi. Mereka belajar membaca budaya, beradaptasi dengan cara kerja yang berbeda, dan menemukan bagaimana identitas kreatif Indonesia dapat diterjemahkan dalam konteks internasional," jelas Guillaume.
Inovasi ini disambut antusias oleh para mahasiswa, salah satunya Maica Arjun, mahasiswa Fashion Design ESMOD Jakarta angkatan 2024 yang membidik ESMOD Seoul untuk mendalami teknik tailoring.
"Saya melihat program ini sebagai kesempatan melihat sejauh mana kreativitas saya dapat berkembang di lingkungan baru. Saya ingin kembali dengan perspektif yang lebih luas, tanpa kehilangan apa yang membuat saya sebagai talenta Indonesia," tutur Maica.
Editor : Mahfud