Mudahkan UMKM Peroleh Bahan Baku Halal, LPPOM Gelar Festival Syawal 1447 H
JAKARTA, iNews Depok.id – Mudahkan UMKM memperoleh bahan baku halal, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) menggelar Festival Syawal 1447 Hijriah.
Puncak acara Festival Syawal 1447H berlangsung di Jakarta, hari ini, Kamis (30/4/2026). Acara dihadiri Menteri Perdagangan Budi Santoso, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hassan, dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia - K.H. M. Cholil Nafis.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Festival Syawal menjadi momentum bagi Indonesia di kancah perdagangan global.
“Festival ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi Islam global,” kata Budi Santoso.
Mendag menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam, dengan nilai ekspor halal mencapai 64,42 miliar dolar AS pada 2025.
”Pemerintah pun terus mendorong penguatan pasar domestik dan ekspansi global melalui berbagai program, termasuk fasilitasi branding, standardisasi mutu, hingga business matching internasional,” tutur Budi Santoso.
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati menyatakan festival mengangkat tema Toko Bahan Baku Halal, Langkah Awal Menuju UMKM Tangguh.
Tema tersebut, tutur Muti Arintawati berangkat dari tantangan nyata di lapangan, bahwa banyak pelaku UMK kesulitan memperoleh bahan baku yang terjamin kehalalannya.
“Kita tidak bisa hanya mendorong hilir tanpa memperkuat hulu. Toko bahan baku halal masih menjadi mata rantai yang perlu diperkuat dalam ekosistem halal kita,” kata Muti saat didapuk memberikan sambutan Festival Syawal 1447 H.
Muti membeberkan LPPOM mulai menginisiasi pengembangan toko bahan baku halal di berbagai daerah, termasuk pilot project toko daging halal Metaly Bogor serta rencana ekspansi ke beberapa wilayah lainnya.
Selain itu, LPPOM juga membuka fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha toko bahan baku, meskipun hingga saat ini kuota yang tersedia belum sepenuhnya terpenuhi—sebuah refleksi rendahnya kesadaran sertifikasi halal.
Muti menegaskan bahwa kekuatan industri halal dimulai dari hulu. Caranya melalui penguatan bahan baku dan UMKM, sehingga industri halal Indonesia memperkuat daya saing di tingkat global.
“Bagi kami, pemberdayaan UMK bukan hanya soal menerbitkan sertifikat halal, tetapi membekali mereka agar bisa naik kelas,” ujarnya.
Hingga 2025, Festival Syawal telah mengedukasi hampir 10.000 peserta dan memfasilitasi sertifikasi bagi lebih dari 1.500 UMK. Program ini bahkan meraih penghargaan nasional seperti Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) dan Best NGO Initiative 2024.
Muti mencontohkan seorang pedagang bakso, misalnya, ingin memastikan produknya halal. Namun saat berbelanja di pasar tradisional, muncul keraguan: apakah daging yang dibeli telah disembelih sesuai syariat? Apakah bumbu curah yang digunakan aman dan jelas statusnya?
Demikian juga produsen kue dan roti masih menjadi sulit untuk medapatkan toko bahan baku kue yang bisa memberikan jaminan kehalalan bahan yang telah dikemas ulang dalam bentuk kemasan kecil.
Editor: M Mahfud