Mengelola Konflik Sebelum Berujung Kekerasan
Dalam kehidupan remaja, konflik dapat bermula dari persoalan yang terlihat sederhana, seperti ejekan, kesalahpahaman, solidaritas kelompok, maupun provokasi dari lingkungan pertemanan. Ketika kemampuan mengelola emosi belum terbentuk dengan baik, situasi tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih berisiko.
Dalam sesi ini, Dr. dr. Natalia Widiasih Raharjanti, MPd.Ked., Sp.KJ., Subsp. For.(K), psikiater forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)–RSCM, memberikan edukasi mengenai self-management dan pengambilan keputusan dalam situasi konflik.
Melalui perspektif kesehatan jiwa dan psikiatri forensik, remaja diajak memahami bagaimana mengenali emosi, mengelola respons terhadap provokasi dan tekanan kelompok, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil tindakan yang dapat berujung pada kekerasan.
Pesan yang dibangun adalah bahwa kemampuan menahan diri bukan merupakan bentuk kelemahan. Sebaliknya, keberanian juga dapat diwujudkan melalui kemampuan menolak provokasi, tidak mengikuti tekanan kelompok, serta memilih penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Memahami Bahwa Tawuran Memiliki Konsekuensi Nyata
Selain kemampuan mengelola diri, pemahaman mengenai hukum menjadi bagian penting dalam pencegahan tawuran. Remaja perlu mengetahui bahwa keputusan untuk “sekadar ikut”, terbawa solidaritas kelompok, ataupun terlibat dalam tindakan kekerasan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih panjang dibandingkan konflik yang menjadi pemicunya.
Aspek tersebut dibahas bersama AKP Irawan Junaedi, S.E., M.M., Kanit Binmas Polsek Metro Menteng, serta Aiptu Roby, Bhabinkamtibmas Kelurahan Menteng.
Kehadiran aparat kepolisian memberikan ruang bagi peserta untuk memahami secara langsung berbagai risiko yang muncul dari keterlibatan dalam tawuran, sekaligus membuka dialog antara remaja, orang tua, dan lingkungan mengenai langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
