Muti membeberkan LPPOM mulai menginisiasi pengembangan toko bahan baku halal di berbagai daerah, termasuk pilot project toko daging halal Metaly Bogor serta rencana ekspansi ke beberapa wilayah lainnya.
Selain itu, LPPOM juga membuka fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha toko bahan baku, meskipun hingga saat ini kuota yang tersedia belum sepenuhnya terpenuhi—sebuah refleksi rendahnya kesadaran sertifikasi halal.
Muti menegaskan bahwa kekuatan industri halal dimulai dari hulu. Caranya melalui penguatan bahan baku dan UMKM, sehingga industri halal Indonesia memperkuat daya saing di tingkat global.
“Bagi kami, pemberdayaan UMK bukan hanya soal menerbitkan sertifikat halal, tetapi membekali mereka agar bisa naik kelas,” ujarnya.
Hingga 2025, Festival Syawal telah mengedukasi hampir 10.000 peserta dan memfasilitasi sertifikasi bagi lebih dari 1.500 UMK. Program ini bahkan meraih penghargaan nasional seperti Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) dan Best NGO Initiative 2024.
Muti mencontohkan seorang pedagang bakso, misalnya, ingin memastikan produknya halal. Namun saat berbelanja di pasar tradisional, muncul keraguan: apakah daging yang dibeli telah disembelih sesuai syariat? Apakah bumbu curah yang digunakan aman dan jelas statusnya?
Demikian juga produsen kue dan roti masih menjadi sulit untuk medapatkan toko bahan baku kue yang bisa memberikan jaminan kehalalan bahan yang telah dikemas ulang dalam bentuk kemasan kecil.
Editor : M Mahfud
Artikel Terkait
