Sayangnya, rincian pengabdian tersebut tidak sepenuhnya diterima positif oleh netizen. Sebagian kalangan di media sosial justru mempertanyakan substansi dari kontribusi tersebut. Mereka menilai bahwa hal-hal yang dipaparkan Tasya sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja yang berstatus sebagai artis atau influencer papan atas tanpa harus dibiayai oleh negara melalui beasiswa LPDP.
Muncul kritik yang menyebutkan bahwa pengabdian seorang penerima beasiswa seharusnya memiliki dampak yang lebih teknis atau struktural, bukan sekadar aktivitas yang dianggap lazim dilakukan oleh figur publik dalam menjalankan tugas profesional maupun citra sosialnya.
Pro dan kontra ini mencerminkan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap para penerima beasiswa LPDP, yang dananya bersumber dari pajak rakyat. Di satu sisi, Tasya berupaya menunjukkan tanggung jawab moralnya sebagai alumni, namun di sisi lain, publik mulai mempertanyakan kembali kriteria "kontribusi nyata" yang seharusnya diberikan oleh para cendekiawan lulusan luar negeri bagi kemajuan Indonesia.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
