Melihat Sejarah Pesantren Al Hamid Cilangkap: Ada Jejak Gus Miek dan Boy Thohir
JAKARTA, iNews Depok.id - Perjalanan panjang mewarnai berdiri dan berkembangnya Pesantren Al Hamid di Cilangkap, Jakarta Timur. Lembaga pendidikan Islam ini kini telah menjelma menjadi salah satu pusat kaderisasi santri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai penjuru Indonesia.
Jejak berdirinya pesantren ini berawal dari keinginan ulama kharismatik, KH Chamim Jazuli atau Gus Miek, yang merindukan keberadaan sebuah pesantren di Jakarta. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, sekaligus pencetus Dzikrul Ghofilin dan Jam’iyah Semaan Jantiko Mantab tersebut menyampaikan cita-citanya kepada KH Hamid Djiman, seorang pengusaha swasta Jakarta yang menjadi pengagum dan pengikut setianya.
Pengasuh Pesantren Al Hamid, KH Lukman Hakim Hamid, mengonfirmasi kisah historis tersebut saat pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2023. Ia menegaskan bahwa pendirian pesantren bermula dari amanah langsung para guru.
"Berawal dari perintah Kiai Hamim Djazuli atau lebih dikenal atau akrab disapa dengan Gus Miek dan Kiai Munif Djazuli yang mana beliau berdua memerintahkan kepada ayahanda kami Abah KH Hamid Djiman untuk membuat ponpes di lahan milik pribadi beliau," ujar Kiai Lukman.
KH Hamid Djiman segera mewujudkan amanah tersebut dengan mendirikan Yayasan Mantab Sejahtera. Melalui keuletan dan kegigihannya, ia membebaskan lahan di dua lokasi terpisah. Bidang tanah seluas 65.000 meter persegi di Cilangkap ia peruntukkan bagi Pesantren Al Hamid Putra, sedangkan lahan seluas 35.000 meter persegi di Pondok Ranggon ia siapkan untuk Pesantren Al Hamid Putri.
Proses pembangunan fisik pesantren mendapat sokongan kuat dari pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir yang kala itu menjabat sebagai Direktur Utama Adaro Energy Indonesia. Kolaborasi antara KH Hamid Djiman dan sahabatnya tersebut mempercepat penyediaan sarana dan prasarana pendidikan santri.
"Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau H Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri," ucap Kiai Lukman.
Dukungan kolaboratif ini melahirkan berbagai fasilitas penunjang modern, mulai dari gedung asrama, gedung sekolah untuk jenjang TK hingga MA, tempat ibadah, fasilitas olahraga lengkap seperti kolam renang dan lapangan, hingga fasilitas penunjang seperti klinik dan koperasi.
Selain membangun sarana fisik, KH Hamid Djiman memprioritaskan penyiapan sumber daya manusia. Ia mengutus putra-putrinya untuk menimba ilmu di berbagai pesantren terkemuka, seperti Pesantren Tebuireng Jombang, Yanbu’ul Qur’an Kudus, Tahfidzul Qur’an Malang, dan mendalami keilmuan di Pesantren Al Falah Ploso Kediri. Langkah ini memperkuat tradisi keilmuan Pesantren Al Hamid yang menginduk langsung di bawah pengawasan pengasuh Pesantren Al Falah Kediri.
Sejak mulai menerima santri pada tahun 2002, lembaga ini terus tumbuh pesat. Pihak yayasan memperbarui nama menjadi Yayasan Mantab Al Hamid pada 2007 berdasarkan Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007, serta mengantongi Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036 pada 2010.
Pada tahun 2026, Pesantren Al Hamid tercatat menampung sekitar 1.800 santri aktif, didukung oleh 210 guru dan 25 tenaga pendidik, serta telah meluluskan sekitar 10.000 alumni.
"Alhamdulillah sampai saat ini jumlah santri baru mencapai 1800 orang. Mohon doa para kiai semoga Ponpes Al Hamid semakin maju dan semakin berkembang penuh dalam keberkahan," kata Kiai Lukman.
Puncak dari rekam jejak sejarah ini membawa Pesantren Al Hamid dipercaya menjadi tuan rumah pembukaan Munas dan Konbes NU 2023 yang dihadiri ribuan ulama dan kiai dari seluruh penjuru Nusantara. Sebelum menerima tanggung jawab besar tersebut, pihak pengelola terlebih dahulu memohon restu kepada para sepuh NU.
"Maka dalam penugasan ini kami sowan kepada guru-guru kami di antaranya beliau Romo Kiai Nurul Huda Jazuli serta Maulana Habib Luthfi. Beliau-beliau inilah yang kemudian memberikan restu dan doa bagi kami dan keluarga di ponpes dalam menjalan tugas yang amat besar ini," jelas Kiai Lukman.
Niat tulus seorang ulama besar dan ikhtiar nyata seorang pengusaha kini telah membuahkan hasil. Pesantren Al Hamid terus kokoh berdiri sebagai benteng pendidikan Islam dan pusat silaturahmi para ulama di ibu kota.
Editor: M Mahfud