get app
inews
Aa Text
Read Next : Kesiapan Indonesia Kembangkan Energi Nuklir, Transparansi dan Mitigasi Risiko Jadi Kunci

PYC dan Climateworks Kupas Masa Depan Industri Baterai Indonesia, Ini Temuannya

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:26 WIB
header img
PYC dan Climateworks Centre memaparkan studi industri baterai Indonesia untuk mendukung hilirisasi, transisi energi, dan penguatan daya saing nasional. Foto Ist

JAKARTA, iNewsDepok.id – Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggelar PYC Talks Vol. 3 bertajuk "Diseminasi Studi: Analisis Pengolahan dan Manufaktur Baterai di Indonesia" di Ruang Galeri Kantor PYC, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memaparkan hasil kajian yang disusun PYC bersama Climateworks Centre (CWC), sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan bagi pengembangan industri manufaktur baterai nasional.

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center, Filda C Yusgiantoro, mengatakan industri baterai memiliki peran penting dalam mendukung stabilitas sistem energi, dekarbonisasi sektor industri, serta percepatan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global karena menguasai lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan tata kelola industri yang berkelanjutan, mulai dari proses penambangan hingga manufaktur.

PYC dan Climateworks Centre memaparkan studi industri baterai Indonesia untuk mendukung hilirisasi, transisi energi, dan penguatan daya saing nasional.

"Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global melalui cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40 persen cadangan dunia. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan industri baterai berbasis nikel, serta proses penambangan hingga manufaktur perlu dikelola secara bertanggung jawab agar berkelanjutan," ujar Filda.

Dalam dalam keynote speech-nya Subkoordinator Perencanaan Produksi Mineral dan Batu bara Juanda Volo Sinaga menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi mineral dan pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Ia menjelaskan, berbagai kebijakan dan insentif telah disiapkan untuk mendorong pengembangan industri baterai sehingga Indonesia mampu memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral yang dimiliki.

Pada sesi panel yang dimoderatori Nadira Asrifa Nasution, PYC bersama Climateworks Centre memaparkan hasil studi mengenai posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global dengan meninjau aspek dinamika pasar, kebijakan, serta keberlanjutan industri.

Research Coordinator PYC Massita Ayu Cindy Putriastuti dan Analyst Climateworks Centre Dinda Ayu Maharani mengungkapkan bahwa mayoritas kendaraan listrik yang beredar di Indonesia saat ini masih menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak memerlukan nikel. Kondisi tersebut membuat manfaat hilirisasi nikel terhadap industri baterai domestik belum optimal.

Selain itu, kapasitas produksi baterai nasional juga dinilai masih relatif kecil dibandingkan kapasitas produksi global. Karena itu, studi tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing industri baterai dalam negeri.

Diskusi dalam PYC Talks Vol. 3 turut menghadirkan tanggapan dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kadin Indonesia Institute (KII), dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi BKPM Ahmad Faisal Suralaga, Executive Director KII Mulya Amri, serta Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan berbagai masukan strategis guna memperkuat implementasi kebijakan manufaktur baterai yang sejalan dengan kebutuhan industri.

Masukan dari para pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan kajian sekaligus mendukung pembangunan industri baterai nasional yang terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif bersama peserta yang berasal dari unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, media, hingga masyarakat umum. Melalui PYC Talks, Purnomo Yusgiantoro Center menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum diskusi yang menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam mendukung ketahanan energi nasional dan percepatan transisi energi berkelanjutan. 

Editor : Suriya Mohamad Said

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut