Keluarga di Indonesia Masih Telat Deteksi Anak Autis, Ternyata Buku KIA Masih Jarang Dibaca
DEPOK, iNews Depok.id - Keluarga di Indonesia masih telat deteksi seorang anak penyandang autis. Ternyata salah satu penyebabnya adalah data anak yang tercatat di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) jarang dibaca.
Demikian disampaikan dr. Arifianto, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta Timur dalam talkshow Festival Peduli Autisme 2026 yang berlangsung di Pesona Square Mall Depok hari ini, Sabtu (4/4/2026).
Talkshow juga menampilkan 2 narasumber lain yakni Founder Peduli ASD (Autism Spectrum Disorder) Isti Anindya dan Ketua Komisi Nasional Disabilitas Dante Rigmalia.
Festival bertema “Bangga Membersamai Autistik: dari Rumah, ke Sekolah, hingga Masyarakat” bergulir hingga pukul 18.00 WIB dengan rangkaian talkshow, forum pendidikan inklusif, science talk, layanan skrining dan konsultasi, serta sensory space ramah anak autistik.
Festival Peduli Autisme 2026 sekaligus memperingatiWorld Autism Awareness Day yang jatuh pada tanggal 2 April.
Menurut dr. Arifianto, anak autis seharusnya bisa dideteksi pada umur 12-18 bulan. "Ini adalah golden period sehingga penanganan bisa maksimal dengan intervensi medis dan lingkungan. Jika terlambat akan menyulitkan karena ada golden period itu," kata dokter spesialis anak ini.
Di Indonesia umumnya anak Autis terdeteksi telat, yakni pada umur lebih dari 24 bulan atau 2 tahun. Sudah begitu penanganan tak optimal karena orang tua biasanya tak bisa langsung menerima kondisi anaknya.
"Ada periode denial, penyangkalan. Biasanya orang tua perlu waktu 1 tahun untuk menerima kondisi anaknya," ujar Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta Timur ini.
Ia menyebut keterlambatan deteksi anak autis karena orang tua dan petugas Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tak detil membaca buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Padahal sejak kandungan hingga lahir usia balita, kondisi kesehatan anak selalu dipantau dan dicatat dalam buku KIA.
"Buku KIA sudah bagus, sekarang lebih detail dan tebal. Tapi masih jarang dibaca," terang dr. Arifianto.
Akibat jarang dibaca, perkembangan anak tak terpantau secara detail termasuk kemungkinan menyandang autis.
dr. Arifianto menjelaskan anak autis bukanlah down syndrome. Anak autis bisa memiliki kecerdasan tinggi (IQ) tetapi mengalami gangguan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, dan pola pikir.
Sementara itu Founder Peduli ASD (Autism Spectrum Disorder) Isti Anindya memaparkan hasil polling terkait layanan terhadap anak autis yang masih jauh dari optimal.
Ia mencontohkan 86,3 persen menyebut akses penanganan autisme masih sulit dijangkau. Demikian juga 90 persen akses informasi terkait autis tak valid.
Sedangkan Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia, mengungkapkan dukungan lingkungan terhadap anak autis masih jauh dari yang dibutuhkan. Ia mencontohkan fakta hanya 4 persen anak penyandang disabilitas yang bersekolah.
"Makanya orangtua harus terus menerus melakukan gerakan advokasi ke semua pihak. Banyak yang belum paham autis," kata Dante Rigmalia.
Dante mengutip data Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa sekitar 1 dari 127 orang di dunia berada dalam spektrum autisme. Namun di Indonesia, masih banyak keluarga menghadapi tantangan akibat minimnya pemahaman, stigma, serta keterbatasan akses terhadap informasi berbasis sains dan lingkungan inklusif. Bahkan, sekitar 40% individu autistik mengalami isolasi sosial.
Dante berharap festival ini menjadi ruang edukasi publik berbasis sains yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun pemahaman yang lebih utuh sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih inklusif.
Editor : M Mahfud